



Holiday. Getaway. Part II.
Siapa bilang kalau sedang liburan diharamkan untuk bangun pagi? Hal ini tidak berlaku untuk Reza. Ya. Alih alih menutup mata sampai sekitar pukul 11 siang, dia justru rela bangun di pagi hari buta, demi mengejar momen matahari terbit.
Diakuinya, sekitar pukul 4 pagi dia keluar dari penginapan, mengayuh sepeda ke pinggir pantai, dan menunggu matahari terbit sambil bersantai. Hasilnya? Foto-foto yang lumayan untuk dijadikan wallpaper laptop pun hadir di kamera pinjaman dari Sita. Tidak hanya foto scenery matahari terbit saja, Reza juga sempat mengabadikan pemandangan unik. Yaitu sekumpulan ikan-ikan kecil yang berenang dengan cara unik di perairan sekitar Gili Trawangan. Ikan-ikan ini berenang dengan cara meloncat-loncat di permukaan air. Bahkan sesekali mereka meloncat terlalu tinggi, sampai melewati permukaan. Sehingga terlihat seperti seekor burung kecil yang terbang rendah diatas permukaan air. Sementara Saya, Lika, dan Anka, hanya bisa bengong di penginapan, mencari dimana keberadaan Reza.
Untuk sarapan hari ini, Reza berinisiatif untuk membeli nasi bungkus. Dia meminta tolong pada Wen, penjaga penginapan kami untuk membelikan beberapa bungkus nasi. Dengan lauk ikan, belut, sayur, dan tentunya sambal, sarapan ini sukses membuat mata saya melek. Pedas banget!

Selanjutnya, kami memutuskan untuk menyewa sepeda, dan berkeliling pulau.
Dengan bantuan Wen, kami men
dapatkan sepeda dengan biaya penyewaan sebesar 30ribu rupiah per 24 jam. Sebelum mulai berkeliling, kami ingin memastikan bahwa Lika bisa mengendarai sepedanya. Diakuinya bahwa dia bisa mengendarai sepeda, tapi mengalami kesulitan mengendalikannya. Khususnya pada saat harus menghentikan laju sepedanya. Hal ini langsung terlihat di sepanjang kami mengelilingi Gili Trawangan. Beberapa kali Lika terlihat kesulitan mengendalikan sepedanya, sehingga hampir menabrak papan informasi cafe, ataupun orang yang berjalan di sekitarnya. Bahkan Reza pun sempat menjadi korban penabrakan Lika! Gawat!

Kegiatan mengelilingi pulau ini cukup menguras energi. Keringat mengucur deras dan membasahi kaos yang kami kenakan. Apalagi, matahari bersinar terik siang itu. Saya, Reza, dan Anka pun memutuskan untuk melanjutkan perjalanan dengan topless mode. Peduli setan glambir lemak di sekitar perut ini terlihat kemana-mana. Toh tidak ada orang yang saya kenal juga di pulau ini.
Oh iya, sebelum memulai perjalanan keliling pulau, kami makan siang terlebih dulu di sebuah restoran bernama Scallywags. Tempat ini mendapat nilai yang cukup bagus di beberapa artikel yang kami baca.
Makanan yang tersedia juga bermacam-macam.
Mulai dari mie goreng seperti dipesan Reza, Quesadillas yang dipesan Lika, sampai sandwich nikmat mengenyangkan yang saya pesan. Untuk minuman pendukungnya, tentu saja sebotol besar Bir Bintang dingin yang paling cocok. Untuk harga, masih terbilang affordable. Untuk makanan, bervariasi dari sekitar 20ribu, sampai 100ribuan. Bagi pelancong yang ingin berhemat, mungkin makanan disini terbilang mahal. Tapi, tempat ini masuk dalam daftar yang harus dikunjungi untuk mengisi perut, meskipun hanya sekali. Jadi, sisihkan uang dan sempatkan mengunjungi Scallywags!
Selanjutnya, kami menemukan tempat bersantai yang sangat ideal. Tempat ini dekat dengan penginapan kami, dan dihari-hari ke depannya, tempat ini yang akan jadi tempat favorit kami. Namanya Cafe Gili.

Tempat ini menyediakan konsep yang menyenangkan. Mereka meletakkan bean bag dalam ukuran besar di pinggir pantai. Ditambah dengan meja kecil, yang tingginya disesuaikan dengan bean bag. Kami pun merebahkan tubuh lelah kami di bean bag tersebut. Ahhh, nyamannya. Ini saatnya untuk memesan bir dingin, dan melakukan kegiatan yang sudah saya rencanakan dari di Jakarta. Membaca buku di pinggir pantai! Buku yang saya pilih adalah The Game, karya Neil Strauss.

Saat hari menjelang gelap, kami kembali dulu ke penginapan untuk mandi, dan bersiap mencari keriaan di Gili Trawangan. Jumat malam adalah party time at Rudy’s Bar! Begitu informasi yang kami dapatkan dari pemuda setempat.
Terkenal sebagai party island, Gili Trawangan menawarkan konsep pesta yang unik. Alih alih setiap cafe dan bar disana menawarkan pesta tiap malamnya, mereka malah menyajikan jadwal pesta yang sangat teratur. Pesta diadakan di hari-hari tertentu, dan di tempat-tempat yang sudah ditentukan. Senin malam adalah waktunya pesta di Tir Na Nog Irish Bar. Rabu malam adalah reggae party di Sama-Sama Bar. Sementara Jumat malam waktunya Rudy’s Bar yang menggelar pesta. Dengan jadwal liburan kami, maka kami hanya bisa merasakan pesta di Rudy’s Bar.
Kami pun melewati Rudy’s Bar saat mencari tempat untuk makan malam. Belum terlihat ada tumpukan pengunjung disana. Tapi suasana pesta memang sudah mulai tampak. Papan pengumuman yang ada di depan Rudy’s Bar pun tertulis bahwa ada pesta di tempat itu. Kami melangkahkan kaki terlebih dulu ke Beach House, untuk mengisi perut. Di tempat ini, kami memutuskan untuk memesan seafood. Mulai dari ikan bakar, cumi-cumi, dan udang. Sebagai compliment, kami mendapatkan salad dan makanan pendukung lainnya secara cuma-cuma. Kami pun tidak mau rugi. Kami mengambil beberapa porsi salad, kentang rebus, nasi, dan sayur khas lombok, bebero.
Beach House cukup mendapat nilai bagus di beberapa artikel yang kami baca. Tidak mengherankan. Karena memang tempatnya bagus, bersih, makanannya enak, dan pelayanannya pun ramah. Bahkan salah satu pegawai Beach House yang bernama Wawan, menawarkan kami magic mushroom. Tidak hanya itu, dia pun menunjuk lantai dua restoran tersebut, sebagai tempat untuk meluangkan waktu setelah mengonsumsi magic mushroom. Tangga ke lantai 2 itu ditutup dengan tali, pertanda tidak bisa sembarang naik begitu saja. Tepat diatas anak tangga pertama, ada papan bertuliskan, “Stairway to Heaven.” Makin jelas sepertinya itu tempat apa.
Kami memutuskan membeli dua gelas magic mushroom yang sudah dihancurkan dan dicampur dengan jus apel dan Kratingdaeng. Hmmm, rasanya enak sekali! Tidak terasa aroma aneh khas magic mushroom! Dengan cepat kami berempat menghabiskan magic mushroom seharga 100ribu pergelas itu.
Karena ingin merasakan pesta di Rudy’s Bar, kami memutuskan untuk tidak naik ke lantai 2 restoran Beach House. Kami pun membayar makanan, dan berpamitan pada Wawan. Psssttt, harga makanan disini terbilang mahal! Malam itu kami membayar sekitar 500ribu untuk pesanan kami! Setelah dilihat oleh Lika, ternyata di bill-nya tertulis ada pajak 21%! Seperti hotel berbintang saja.
Di Rudy’s Bar, suasana pesta sudah dimulai. Lampu-lampu berwarna warni sudah mulai menyoroti ke berbagai arah. Bar sudah mulai sesak oleh turis. Begitu pun dengan dance floor. Sudah ada beberapa orang yang ajojing dengan asiknya. Terlihat sekali mereka sedang ada di bawah pengaruh substansi. Kami membeli bir di bar, lalu mencoba bergabung dengan kerumunan.
Sial, pengaruh magic mushroom mulai terasa. Badan saya mulai terasa lemas, pandangan pun mulai kabur. Entah kenapa kali ini tidak seperti biasanya. Badan saya mengeluarkan keringat dengan volume yang lumayan banyak. Ternyata hal ini juga terjadi pada Reza dan Anka. Mereka terus-terusan mengeluhkan keringat yang keluar dan lemasnya persendian mereka. Kami mencoba menikmati lagu yang keluar dari pengeras suara, dan suasana yang ada malam itu. Sementara Lika, seperti biasa, mencoba melihat ke seantero Rudy’s Bar. Siapa tahu ada turis asing yang bisa dibawa pulang, ya nggak? :p
Lumayan lama kami menghabiskan waktu di Rudy’s Bar. Selanjutnya kami pindah ke Sama-Sama Bar untuk bersantai sejenak. Menikmati lagu-lagu reggae, yang menurut Lika sesuai dengan slogannya, “happy people listen to reggae music,”.
Makin malam, saya makin tidak bisa mengendalikan diri. Saya memutuskan untuk kembali ke penginapan, sendirian. Saya ingin menikmati pengaruh magic mushroom ini. Anti rugi! Di penginapan, saya memasang earphone, dan memutar musik-musik langganan di momen seperti ini. Sigur Ros, Enya, dan Mali Music jadi pilihan malam itu. Saya begitu menikmatinya, sampai tidak mendengar ketukan pintu dari Lika. Ya. Mereka sudah pulang dalam keadaannya masing-masing. Reza dan Anka yang masih dibawah pengaruh magic mushroom, dan Lika yang sudah menenangkan dirinya dengan meminum wine di Sama-Sama Bar tadi.
Malam itu saya tidur di kamar dengan Reza, dan Lika tidur dengan Anka di kamar sebelah. Terdengar gerungan Anka yang mengeluh susah tidur. Begitu juga dengan Reza yang terdengar gelisah di sebelah saya. Mereka masih dibawah pengaruh magic mushroom ternyata. Mari dinikmati. Namanya juga liburan.
On the playlist:
Enya: Only If
Sigur Ros: Hoppipolla
Sigur Ros: Staralfur
Sigur Ros: Olsen Olsen
Explosion In The Sky: First Breath After Coma
Graham Coxon: Bittersweet Bundle of Misery
Justice: D.A.N.C.E.
Vampire Weekend: Cape Cod Kwassa Kwassa
I’m From Barcelona: Treehouse
Yeasayer: ONE
Fastball: Out of My Head










