A man is a success,
if he gets up in the morning,
and gets to bed at night,
and in between...
he does what he wants to do.
Bob Dylan.

a bunch of this and that

Desember 08, 2011

Holiday. Getaway. II
































Holiday. Getaway. Part II.

Siapa bilang kalau sedang liburan diharamkan untuk bangun pagi? Hal ini tidak berlaku untuk Reza. Ya. Alih alih menutup mata sampai sekitar pukul 11 siang, dia justru rela bangun di pagi hari buta, demi mengejar momen matahari terbit.


Diakuinya, sekitar pukul 4 pagi dia keluar dari penginapan, mengayuh sepeda ke pinggir pantai, dan menunggu matahari terbit sambil bersantai. Hasilnya? Foto-foto yang lumayan untuk dijadikan wallpaper laptop pun hadir di kamera pinjaman dari Sita. Tidak hanya foto scenery matahari terbit saja, Reza juga sempat mengabadikan pemandangan unik. Yaitu sekumpulan ikan-ikan kecil yang berenang dengan cara unik di perairan sekitar Gili Trawangan. Ikan-ikan ini berenang dengan cara meloncat-loncat di permukaan air. Bahkan sesekali mereka meloncat terlalu tinggi, sampai melewati permukaan. Sehingga terlihat seperti seekor burung kecil yang terbang rendah diatas permukaan air. Sementara Saya, Lika, dan Anka, hanya bisa bengong di penginapan, mencari dimana keberadaan Reza.

Untuk sarapan hari ini, Reza berinisiatif untuk membeli nasi bungkus. Dia meminta tolong pada Wen, penjaga penginapan kami untuk membelikan beberapa bu
ngkus nasi. Dengan lauk ikan, belut, sayur, dan tentunya sambal, sarapan ini sukses membuat mata saya melek. Pedas banget!



Selanjutnya, kami memutuskan untuk menyewa sepeda, dan berkeliling pulau.


Dengan bantuan Wen, kami mendapatkan sepeda dengan biaya penyewaan sebesar 30ribu rupiah per 24 jam. Sebelum mulai berkeliling, kami ingin memastikan bahwa Lika bisa mengendarai sepedanya. Diakuinya bahwa dia bisa mengendarai sepeda, tapi mengalami kesulitan mengendalikannya. Khususnya pada saat harus menghentikan laju sepedanya. Hal ini langsung terlihat di sepanjang kami mengelilingi Gili Trawangan. Beberapa kali Lika terlihat kesulitan mengendalikan sepedanya, sehingga hampir menabrak papan informasi cafe, ataupun orang yang berjalan di sekitarnya. Bahkan Reza pun sempat menjadi korban penabrakan Lika! Gawat!


Kegiatan mengelilingi pulau ini cukup menguras energi. Keringat mengucur deras dan membasahi kaos yang kami kenakan. Apalagi, matahari bersinar terik siang itu. Saya, Reza, dan Anka pun memutuskan untuk melanjutkan perjalanan dengan topless mode. Peduli setan glambir lemak di sekitar perut ini terlihat kemana-mana. Toh tidak ada orang yang saya kenal juga di pulau ini.

Oh iya, sebelum memulai perjalanan keliling pulau, kami makan siang terlebih dulu di sebuah restoran bernama Scallywags.
Tempat ini mendapat nilai yang cukup bagus di beberapa artikel yang kami baca.
Makanan yang tersedia juga bermacam-macam.
Mulai dari mie goreng seperti dipesan Reza, Quesadillas yang dipesan Lika, sampai sandwich nikmat mengenyangkan yang saya pesan. Untuk minuman pendukungnya, tentu saja sebotol besar Bir Bintang dingin yang paling cocok. Untuk harga, masih terbilang affordable. Untuk makanan, bervariasi dari sekitar 20ribu, sampai 100ribuan. Bagi pelancong yang ingin berhemat, mungkin makanan disini terbilang mahal. Tapi, tempat ini masuk dalam daftar yang harus dikunjungi untuk mengisi perut, meskipun hanya sekali. Jadi, sisihkan uang dan sempatkan mengunjungi Scallywags!



Selanjutnya, kami menemukan tempat bersantai yang sangat ideal. Tempat ini dekat dengan penginapan kami, dan dihari-hari ke depannya, tempat ini yang akan jadi tempat favorit kami. Namanya Cafe Gili.



Tempat ini menyediakan konsep yang menyenangkan. Mereka meletakkan bean bag dalam ukuran besar di pinggir pantai. Ditambah dengan meja kecil, yang tingginya disesuaikan dengan bean bag. Kami pun merebahkan tubuh lelah kami di bean bag tersebut. Ahhh, nyamannya. Ini saatnya untuk memesan bir dingin, dan melakukan kegiatan yang sudah saya rencanakan dari di Jakarta. Membaca buku di pinggir pantai! Buku yang saya pilih adalah The Game, karya Neil Strauss.


Saat hari menjelang gelap, kami kembali dulu ke penginapan untuk mandi, dan bersiap mencari keriaan di Gili Trawangan. Jumat malam adalah party time at Rudy’s Bar! Begitu informasi yang kami dapatkan dari pemuda setempat.


Terkenal sebagai party island, Gili Trawangan menawarkan konsep pesta yang unik. Alih alih setiap cafe dan bar disana menawarkan pesta tiap malamnya, mereka malah menyajikan jadwal pesta yang sangat teratur. Pesta diadakan di hari-hari tertentu, dan di tempat-tempat yang sudah ditentukan. Senin malam adalah waktunya pesta di Tir Na Nog Irish Bar. Rabu malam adalah reggae party di Sama-Sama Bar. Sementara Jumat malam waktunya Rudy’s Bar yang menggelar pesta. Dengan jadwal liburan kami, maka kami hanya bisa merasakan pesta di Rudy’s Bar.


Kami pun melewati Rudy’s Bar saat mencari tempat untuk makan malam. Belum terlihat ada tumpukan pengunjung disana. Tapi suasana pesta memang sudah mulai tampak. Papan pengumuman yang ada di depan Rudy’s Bar pun tertulis bahwa ada pesta di tempat itu. Kami melangkahkan kaki terlebih dulu ke Beach House, untuk mengisi perut. Di tempat ini, kami memutuskan untuk memesan seafood. Mulai dari ikan bakar, cumi-cumi, dan udang. Sebagai compliment, kami mendapatkan salad dan makanan pendukung lainnya secara cuma-cuma. Kami pun tidak mau rugi. Kami mengambil beberapa porsi salad, kentang rebus, nasi, dan sayur khas lombok, bebero.


Beach House cukup mendapat nilai bagus di beberapa artikel yang kami baca. Tidak mengherankan. Karena memang tempatnya bagus, bersih, makanannya enak, dan pelayanannya pun ramah. Bahkan salah satu pegawai Beach House yang bernama Wawan, menawarkan kami magic mushroom. Tidak hanya itu, dia pun menunjuk lantai dua restoran tersebut, sebagai tempat untuk meluangkan waktu setelah mengonsumsi magic mushroom. Tangga ke lantai 2 itu ditutup dengan tali, pertanda tidak bisa sembarang naik begitu saja. Tepat diatas anak tangga pertama, ada papan bertuliskan, “Stairway to Heaven.” Makin jelas sepertinya itu tempat apa.


Kami memutuskan membeli dua gelas magic mushroom yang sudah dihancurkan dan dicampur dengan jus apel dan Kratingdaeng. Hmmm, rasanya enak sekali! Tidak terasa aroma aneh khas magic mushroom! Dengan cepat kami berempat menghabiskan magic mushroom seharga 100ribu pergelas itu.


Karena ingin merasakan pesta di Rudy’s Bar, kami memutuskan untuk tidak naik ke lantai 2 restoran Beach House. Kami pun membayar makanan, dan berpamitan pada Wawan. Psssttt, harga makanan disini terbilang mahal! Malam itu kami membayar sekitar 500ribu untuk pesanan kami! Setelah dilihat oleh Lika, ternyata di bill-nya tertulis ada pajak 21%! Seperti hotel berbintang saja.


Di Rudy’s Bar, suasana pesta sudah dimulai. Lampu-lampu berwarna warni sudah mulai menyoroti ke berbagai arah. Bar sudah mulai sesak oleh turis. Begitu pun dengan dance floor. Sudah ada beberapa orang yang ajojing dengan asiknya. Terlihat sekali mereka sedang ada di bawah pengaruh substansi. Kami membeli bir di bar, lalu mencoba bergabung dengan kerumunan.


Sial, pengaruh magic mushroom mulai terasa. Badan saya mulai terasa lemas, pandangan pun mulai kabur. Entah kenapa kali ini tidak seperti biasanya. Badan saya mengeluarkan keringat dengan volume yang lumayan banyak. Ternyata hal ini juga terjadi pada Reza dan Anka. Mereka terus-terusan mengeluhkan keringat yang keluar dan lemasnya persendian mereka. Kami mencoba menikmati lagu yang keluar dari pengeras suara, dan suasana yang ada malam itu. Sementara Lika, seperti biasa, mencoba melihat ke seantero Rudy’s Bar. Siapa tahu ada turis asing yang bisa dibawa pulang, ya nggak? :p


Lumayan lama kami menghabiskan waktu di Rudy’s Bar. Selanjutnya kami pindah ke Sama-Sama Bar untuk bersantai sejenak. Menikmati lagu-lagu reggae, yang menurut Lika sesuai dengan slogannya, “happy people listen to reggae music,”.


Makin malam, saya makin tidak bisa mengendalikan diri. Saya memutuskan untuk kembali ke penginapan, sendirian. Saya ingin menikmati pengaruh magic mushroom ini. Anti rugi! Di penginapan, saya memasang earphone, dan memutar musik-musik langganan di momen seperti ini. Sigur Ros, Enya, dan Mali Music jadi pilihan malam itu. Saya begitu menikmatinya, sampai tidak mendengar ketukan pintu dari Lika. Ya. Mereka sudah pulang dalam keadaannya masing-masing. Reza dan Anka yang masih dibawah pengaruh magic mushroom, dan Lika yang sudah menenangkan dirinya dengan meminum wine di Sama-Sama Bar tadi.


Malam itu saya tidur di kamar dengan Reza, dan Lika tidur dengan Anka di kamar sebelah. Terdengar gerungan Anka yang mengeluh susah tidur. Begitu juga dengan Reza yang terdengar gelisah di sebelah saya. Mereka masih dibawah pengaruh magic mushroom ternyata. Mari dinikmati. Namanya juga liburan.




On the playlist:

Enya: Only If

Sigur Ros: Hoppipolla

Sigur Ros: Staralfur
Sigur Ros: Olsen Olsen
Explosion In The Sky: First Breath After Coma

Graham Coxon: Bittersweet Bundle of Misery

Justice: D.A.N.C.E.

Vampire Weekend: Cape Cod Kwassa Kwassa

I’m From Barcelona: Treehouse
Yeasayer: ONE
Fastball: Out of My Head

Holiday. Getaway.



Seperti yang dilantunkan oleh Ezra Koenig di lagu lagu Vampire Weekend – Holiday, liburan memang saat yang ditunggu-tunggu. Saya dan beberapa teman saya merencanakan liburan di awal bulan November. Kami ingin mengunjungi Gili Trawangan. Sebuah pulau kecil dengan nuansa khas tropis di Nusa Tenggara Barat yang lebih menjadi destinasi liburan favorit turis asing ketimbang turis domestik.

Dari jauh-jauh hari, Saya, dan dua teman saya, Lika dan Reza, sudah membuat rencana. Kami juga mengajak beberapa teman lainnya, tapi sayang terkendala oleh pekerjaan mereka masing-masing. Maka, hanya Saya, Lika, Reza, dan Anka, yang merupakan adik lika, yang akhirnya berangkat ke Gili Trawangan.
Kami berencana menghabiskan 5 hari 4 malam di Gili Trawangan. Kami pun memperkirakan biaya yang harus dikeluarkan untuk menunaikan liburan tersebut. Kami memutuskan untuk menaiki maskapai Lion Air tujuan Jakarta-Mataram. Karena di H-7, mereka mematok harga yang cukup masuk akal, yaitu 1 juta untuk pulang pergi Jakarta-Mataram-Jakarta. Lika pun dengan baik hati memesan tiket melalui situs resmi Lion Air, dengan menggunakan kartu kreditnya terlebih dahulu. Selanjutnya kami membayar sesuai dengan biaya yang tertera.

Penerbangan yang kami ambil adalah penerbangan pagi. Menurut tiket yang dibeli, kami akan berangkat pukul 9 pagi WIB. Keputusan ini kami ambil mengingat perjalanan dari Bandara Internasional Lombok (yang baru saja dibangun dan diresmikan beberapa wakt
u yang lalu) menuju pelabuhan Bangsal cukup memakan waktu. Apalagi dengan kenyataan bahwa public boat yang akan membawa kami menyeberang ke Gili Trawangan, hanya melayani sampai pukul 4 sore.
Maka Saya, Reza, dan Anka pun memutuskan untuk menginap di tempat kos Lika, sehari sebelumnya. Supaya besok paginya bisa berangkat bersama ke bandara. Saya pribadi takut ketiduran kalau harus berangkat sendirian dari rumah!
Taksi yang kami tumpangi melaju dari tempat kos Lika di daerah Senayan menuju Bandara Soekarno Hatta pada pukul 6 pagi. Tanpa dinyana, jalanan menuju bandara pagi itu lancar sekali. Tanpa
banyak mengalami kendala, kami sampai di bandara pada pukul 7. Alhasil, banyak waktu yang harus dibuang di bandara. Kami pun memutuskan untuk sedikit mengisi perut sebelum masuk ke dalam. Donat dan kopi jadi pilihan pagi itu.


Setelah melalui proses check in dan membayar airport tax sebesar 40ribu rupiah, kami pun memasuki boarding room. Thank god! Penerbangan kami tidak mengalami penundaan jadwal oleh maskapai yang memang terkenal dengan layanan delay-nya ini. Segera setelah kami menempati tempat duduk masing-masing di dalam pesawat, rasa kantuk pun menyerang. Setelah pesawat berada ribuan kaki di udara, saya pun memasang earphone, dan memutar playlist liburan yang sudah saya susun sebelumnya di iPhone saya. Maka, lantunan merdu dari The Beach Boys, Vampire Weekend, Devendra Banhart, Empire of the Sun, Little Joy, The Libertines, The Pains of Being Pure at Heart, Sigur Ros, The Trees And The Wild, Weezer, dan Yeasayer, mengantar saya mempersiapkan mental berlibur, dan tertidur pulas di pesawat.

Tidak berapa lama kemudian, kami pun tiba di Bandara Intern
asional Lombok.

Saat kami melangkahkan kaki ke area luar dari bandara tersebut, waktu setempat menunjukkan pukul 12 siang. Ya, daerah ini masuk di daerah WITA, yang berarti lebih cepat satu jam daripada waktu Jakarta.
Sebelum memutuskan akan menggunakan transportasi apa selanjutnya, saya melangkahkan kaki menuju mesin ATM BCA. Berhubung saya belum tahu seperti apa kondisi di Gili Trawangan, dan menurut beberapa blog yang saya baca, tidak terdapat banyak mesin ATM disana, saya rasa akan lebih aman kalau saya membawa uang tuna
i. Saya pun mengambil beberapa lembar uang rupiah pecahan seratus ribu dari mesin ATM.

Lika menganjurkan agar kami menaiki bis DAMRI terlebih dulu, seb
elum nantinya melanjutkan naik taksi. Bis DAMRI ini akan mengantar kami sampai ke kota Mataram. Dari situ lah nantinya kami akan melanjutkan perjalanan ke pelabuhan Bangsal dengan menggunakan taksi. Tanpa disangka, perjalanan dari bandara ke pool Damri di daerah Swate cukup memakan waktu. Kurang lebih selama satu setengah jam kami dibuat kedinginan di dalam bis tersebut. Beruntung saat turun di pool DAMRI, sudah ada taksi Blue Bird yang baru saja mengantar penumpangnya. Maka kami pun menaiki taksi tersebut, dan minta diantarkan ke pelabuhan Bangsal.
Supir taksi tersebut memberikan beberapa saran yang lumayan baik. Seperti, pilihan jalur yang akan ditempuh saat menuju pelabuhan Bangsal. Ada dua jalur yang bisa ditempuh. Satu, melewati daerah pariwisata pantai di Lombok, yaitu Senggigi. Kami bisa
mendapatkan scenery indah selama perjalanan. Namun perjalanan akan memakan waktu lama, karena jarak yang lumayan jauh. Sementara pilihan kedua adalah berjalan lurus ke Utara melalui Monkey Forest. Tidak banyak pemandangan yang bisa memanjakan mata. Karena sepanjang jalan kami disuguhi dengan jalan berkelok khas daerah kaki gunung. Tapi jarak yang ditempuh tidak sejauh pilihan pertama.

Sebelum melintasi Monkey Forest, tidak lupa saya minta diantarkan ke mini market terdekat. Untuk membeli sandal jepit, karena saya lupa membawa sandal jepit. Tidak sudi rasanya kalau sepatu Sperry boatshoe ini sampai terkena pasir, apalagi air laut!

Sampai di pelabuhan Bangsal, kami masih harus menaiki Cidomo ke area dalam. Cukup membayar 20ribu, tanpa harus menanyakan lebih lanjut lagi soal harganya. Karena kalau menanyakan soal harga, kusir cidomo akan mematok harga yang lebih mahal. Bisa sampai 15ribu per orang!

Turun dari cidomo, kami sampai di area pinggiran pelabuhan. Saatnya untuk membeli tiket public boat untuk menyebrang.
Hati-hati disini! Karena banyak orang yang akan membuat bingung. Seolah-olah mereka menjual tiket public boat, padahal mereka hanya menjual tiket untuk chartered boat dan shuttle boat, yang tentu saja jauh lebih mahal dari public boat. Kami sempat terkecoh dengan memasuki salah satu rumah yang terlihat seperti penjual tiket public boat. Dibuat bingung selama beberapa menit, kami akhirnya memutuskan untuk masuk saja ke dalam area pelabuhan. Dan benar saja, di pinggir pelabuhan ada satu counter kecil yang menjual tiket public boat! Jadi, kalau mau ke Gili Trawangan, begitu sampai di pelabuhan Bangsal, langsung saja berjalan ke dalam, sampai di pinggir laut, untuk kemudian membeli tiket di counter yang terletak tidak jauh dengan garis pantai.
Untuk menggunakan layanan penyeberangan public boat, biaya yang harus dikeluarkan tidak mahal. Cukup dengan 10ribu rupiah per orang. Tapi tidak enaknya adalah, kami harus menunggu sampai perahu tersebut penuh, baru akan jalan menyeberang ke Gili Trawangan. Maka kami pun harus menunggu sampai penumpang berjumlah 20 orang, baru kami
memasuki perahu. Oh iya, batas penumpang ini seperti berbeda-beda, tergantung perahunya. Karena ada yang menunggu sampai 20 orang, tapi ada juga yang hanya menunggu sampai 16 orang.

Di atas perahu, kami duduk berdampingan dengan orang-orang lain yang juga menuju Gili Trawangan. Berhubung saya mabuk laut, maka saya tidak lupa untuk menenggak sebutir pil antimo sebelum perahu melaut.
Rasanya unik melihat seisi perahu. Karena terdiri dari anak buah kapal, turis lokal seperti kami, turis asing dari berbagai negara, dan tidak lupa penduduk lokal Gili Trawangan yang baru saja membeli perlengkapan hidup di Lombok. Karena memang untuk membeli sesuatu apa pun, mereka harus menyebrang ke Lombok. Namanya juga pulau kecil.

Selama kurang lebih 40 menit, kami dibawa mengarungi laut tenang menu
ju Gili Trawangan. Sepanjang perjalanan, kami dibawa melewati 2 Gili lainnya, yaitu Gili Air dan Gili Meno. Di tengah-tengah perjalanan, tentu saja perahu dibuat bergoyang oleh ombak. Tapi tenang saja, ombak disini terhitung tenang, tidak terlalu besar. Jadi tidak terlalu banyak goncangan yang dirasakan. Hanya saja, saat penumpang yang tersebar di sisi kiri dan kanan perahu tidak seimbang jumlahnya, maka perahu akan bergoyang dengan lebih hebat lagi.
Ada kejadian yang menegangkan di penyeberangan ini. Di tengah perjalanan, tiba-tiba terdengar bunyi keras seperti benda keras menghantam sisi badan perahu. Anak buah kapal pun panik dan berteriak, untuk selanjutnya berlari ke bagian depan perahu dan melihat ada apa gerangan yang terjadi. Ternyata bunyi keras tersebut dihasilkan oleh jangkar yang secara tiba-tiba terlepas dari ikatannya dan terjatuh ke dalam laut. Anak buah kapal tersebut tentu saja berteriak kepada rekannya yang ada di belakang perahu un
tuk segera menghentikan laju kapal. Bayangkan saja apa yang terjadi kalau perahu kecil ini terus berjalan dengan keadaan jangkar yang sudah jatuh ke laut? Bisa saja perahu ini tertarik dan terbalik! Dengan sigap, anak buah kapal yang ada di bagian depan menarik jangkar untuk kemudian mengikatnya dengan lebih kuat. Perjalanan pun berlanjut.
Akhirnya, sampai juga kami di pelabuhan Gili Trawangan. Dengan semangat, saya menuruni perahu, untuk selanjutnya berjalan perlahan me
masuki area pulau tersebut. Senyum terkembang. Inilah liburannya. Saya akan berlibur disini selama beberapa hari ke depan.





























Tanpa banyak basa basi, kami langsung berjalan untuk mencari penginapan. Sambil melihat-lihat sekeliling, kami berjalan di jalan utama Gili Trawangan yang h
anya berukuran sekitar 3-4 meter lebarnya. Kami berjalan ke arah Utara, karena menurut blog yang kami baca, disitulah banyak penginapan murah terletak. Sementara kalau berjalan ke arah Selatan, maka akan ditemui berbagai macam cafe, restaurant, dan resort menengah keatas dengan harga mahal tentunya.Setelah berjalan lumayan jauh, akhirnya kami memutuskan untuk segera menentukan penginapan mana yang akan kami pilih. Kami bertemu dengan seorang pemuda bernama Wen, yang menawarkan penginapan pada kami. Dia menganjurkan kami untuk melihat kamarnya terlebih dulu, baru menentukan akan menginap disitu atau tidak. Kami pun mengiyakan ajakannya.

Kami berjalan menyusuri gang yang lebih kecil lagi ukurannya daripada jalanan utamanya. Rasa-rasanya, mobil tidak akan cukup melalui gang yang saat ini kami lalui. Oh iya, di Gili Trawangan tidak ada satu pun kendaraan bermotor. Baik itu mobil ataupun sepeda motor. Yang ada hanya cidomo dan sepeda. Keadaan ini membuat Gili Trawangan lebih bebas dari polusi. Tapi tidak dengan polusi penciuman, karena di beberapa area terlihat kotoran kuda yang terjatuh dari tempatnya, dan menimbulkan bau yang lumayan menyengat, hehehe.

Setelah berjalan sekitar 200 meter, akhirnya kami sampai di penginapan yang bernama You and Me Homestay. Penginapan ini hanya memiliki 2 kamar di areanya. Dikelilingi dengan tembok lumayan tinggi, sebuah gazebo di bagian depan, dan taman kecil yang dipenuhi berbagai tanaman dengan bunga yang berwarna-warni. Lumayan juga. Kami segera mengecek bagian dalam kamarnya. Di dalamnya tidak terdapat AC. Hanya ada 2 buah kipas angin untuk mengusir panas. Sebuah kasur berukuran sedang tedapat di dalamnya. Sebuah lemari di sudut, dan sebuah kamar mandi dengan wc duduk dan shower. Disediakan juga sebuah dispenser lengkap dengan galon untuk air minum selama menginap. Ada juga extra bed yang sudah tersedia dan bisa digunakan tanpa dikenakan biaya tambahan.


Kami memutuskan untuk menyewa dua kamar di penginapan ini. Sayang, di malam pertama, kamar satu lagi masih ditempati oleh turis asing. Dia baru akan check out esok paginya. Maka kami baru bisa menggunakan kamar tersebut esok siang. Ya sudah lah, malam ini kami akan tidur berempat di satu kamar terlebih dulu.

Saat menanyakan perihal biaya sewanya, Wen bertanya akan berapa hari kami menginap disana. Saat mengatakan 4 malam, Wen pun memberi harga yang lumayan murah. Yaitu 80 ribu rupiah semalam. Harga ini dibawah ekspektasi kami. Karena saya pribadi berpikiran bahwa dia akan membuka dengan harga sekitar 120-150ribu rupiah terlebih dahulu, baru kami akan melakukan proses tawar menawar. Kami pun setuju untuk menginap disitu tanpa melalui proses tawar menawar.
Segera kami memasuki kamar dan menaruh semua barang bawaan kami. Karena harus diakui, membawa backpack besar sambil berjalan kaki daritadi ternyata cukup melelahkan. Kami pun melepas lelah sejenak di halaman depan penginapan tersebut. Sambil sesekali menyeruput kopi dan menghisap rokok, kami mulai menyusun rencana untuk malam harinya. Hal pertama yang kami lakukan adalah, mencari makan. Karena memang kami belum makan dari siang tadi. Sepanjang hari ini, hanya donat tadi pagi yang masuk ke perut kami.
Sambil memilih tempat makan yang ada di sebuah majalah panduan, kami berjalan keluar dari penginapan. Akhirnya pilihan kami adalah menyambangi sebuah tempat dengan nama Warung Indonesia untuk makanan pertama kami di Gili Trawangan. Tempat ini kami pilih dengan asumsi mereka menyediakan makanan lokal (yaitu nasi lengkap dengan lauk-lauknya), karena tingkat kelaparan kami ini sudah luar biasa.


Kami sempat dibuat bingung dengan letak Warung Indonesia. Karena tempat ini terletak tidak di pinggir jalan utama. Melainkan agak masuk ke dalam, bersebelahan dengan deretan penginapan dan rumah-rumah penduduk lokal. Begitu melangkahkan kaki ke dalam Warung Indonesia, terlihat poster yang menampilkan menu andalan mereka. Dan itulah yang jadi pilihan saya sore itu, nasi campur.
Awalnya, saya pikir nasi campur ini akan menjadi serupa dengan nasi campur seperti di Bali. Lengkap dengan daging atau sate babi. Tapi ternyata tebakan saya salah. Karena mayoritas penduduk di Gili Trawangan adalah Muslim, jadi nasi campur ini pun tidak mengandung babi. Lauk yang ada di nasi campur ini cukup beragam. Mulai dari rendang, ayam goreng, teri dan kacang balado, sayur bayam, sayur toge, tahu goreng, dan orek tempe. Lengkap dengan sambal yang tentunya pedas!

Selesai melahap makanan pertama kami di Gili Trawangan, kantuk pun menyerang. Maklum, kami terbilang kurang tidur, juga lelah akibat perjalanan yang lumayan jauh dan memakan waktu. Sambil menunggu makanan di perut terolah dengan sempurna, kami memutuskan untuk bersantai dulu di sofa panjang yang disediakan di Warung Indonesia. Angin semilir yang menerpa, perut kenyang, dan lelah yang menyerang, membuat saya sukses tertidur selama beberapa menit. Beruntung saya dibangunkan oleh suara berisik Reza dan Lika yang bersiap untuk membayar makanan yang sudah kami pesan.

Selanjutnya, kami berjalan ke pantai Timur Gili Trawangan. Lokasi cafe serta restoran berjejer menawarkan keunggulannya masing-masing. Kami melewati jalan-jalan kecil di perumahan warga lokal. Setelah memilih-milih, kami akhirnya memutuskan Rudy’s Bar sebagai tempat pilihan selanjutnya.

Setelah sempat berargumen perihal minuman yang akan kami pesan, kami memutuskan untuk memesan satu pitcher vodka-red bull. Kami memang sempat berargumen soal minuman ini. Maklum, saat kami memesan, waktu masih menunjukkan pukul 7 malam. Masih terlalu sore untuk mabuk. Satu pitcher vodka-red bull datang dengan seloyang pizza yang dipesan oleh Lika. Makanan yang tepat ternyata sebagai teman minum malam itu.

Sampai sekitar pukul 10 malam, kami berempat sudah menghabiskan 4 pitcher minuman. Dua pitcher Vodka-redbull, satu pitcher vodka-orange, dan satu pitcher vodka-watermelon juice. Tidak lupa dua botol besar bir Bintang. Mabuk? Tidak terlalu. Tapi kami sudah mulai berisik dan mulai tidak menghiraukan keadaan dan pengunjung sekitar kami. Bahkan Saya, Reza, dan Anka, sampai tidak menyadari bahwa ada 3 turis asing wanita yang duduk di meja sebelah kami, dan sudah memperhatikan kami sedari tadi. Menurut Lika, mereka menunggu untuk diajak bersenang-senang bersama. Tapi apa daya. Kami sudah terlalu asik sendiri, dan memang pada dasarnya kami kurang pede untuk mingle dan flirting begitu saja (cemen ya?).

Badan yang lelah ditambah dengan asupan makanan dan alkohol yang lumayan banyak, membuat kantuk yang menyerang makin menjadi. Sekitar pukul 11 malam, kami memutuskan untuk kembali ke penginapan. Beristirahat, bersiap untuk hari esok. Malam ini kami masih tumplek blek di satu kamar. Karena kamar sebelah masih diisi oleh turis lainnya. Reza, Lika, dan Anka tidur di kasur utama, sementara saya memutuskan untuk merebahkan tubuh ini di extra bed yang tersedia. Musik mengalir melalui earphone saya, dan siap mengantar saya ke alam mimpi. Tapi ternyata belum saatnya untuk tidur. Karena Lika masih berkicau dengan suara cemprengnya. Malam itu entah kenapa Lika terdengar lebih bawel dari biasanya. Kontrol tubuhnya pun tidak prima. Seringkali dia terlihat hampir terjatuh, atau menabrak lemari atau barang apa pun yang ada di kamar. Saya pun teringat kalimat yang pernah diucapkannya, “aku itu kalau mabuk pasti jadi berisik,” maka bisa dipastikan bahwa Lika malam itu mabuk.


On the playlist:
T-Rex: 20th Century Boy
Ace of Base: The Sign
Vampire Weekend: Holiday
Iwa K.: Bebas
Monkey to Millionaire: Strange is the Song in Our Conversation
John Mayer: Who Says
Mark Ronson & The Business Intl: Bang Bang Bang
Blink 182: What’s My Age Again?
Graham Coxon: Feel Alright
Albert Hammond Jr.: Back to the 101
The Foundations: Build Me Up Buttercup

Juni 21, 2011

Tenggang Rasa Itu Masih Ada

Manusia modern di Jakarta, sudah lebih banyak menelan mentah-mentah nilai budaya Barat. Terlebih untuk masyarakat kelas menengah ke atas. Seakan semua memuja sikap dan budaya individualistis, seperti yang sering kita lihat, baca, ataupun dengar di cerita budaya masyarakat Barat. Tidak ada yang salah dengan hal itu. Apalagi mengingat persaingan dan keruwetan hidup di kota metropolitan seperti Jakarta. Seakan sikap indivualistis jadi oase menyegarkan, yang bisa mengistirahatkan jiwa dari hiruk pikuk pukul 7 pagi dan 5 sore.

Tenggang rasa, yang pernah diajarkan saat Sekolah Dasar dulu, seakan menguap entah kemana. Sikap yang menurut generasi sebelum kita sebaiknya dijadikan dasar dalam menjalani hidup, seakan dilupakan.

Saya sendiri termasuk orang yang cuek, kalau tidak mau dibilang masa bodo, terhadap keadaan sekeliling di jalan. Apalagi saat berada di pusat keramaian, jalan raya yang penuh dengan orang dan kendaraan, atau saat berada di tengah terminal kendaraan umum, yang suasananya membuat ingin punya jurus ninja untuk secepatnya menghilang dari tempat tersebut. Apalagi dengan kenyataan, banyak modus kejahatan yang beredar di kota sebesar dan sekreatif Jakarta. Para penjahatnya ikutan kreatif. Seakan tidak mau ketinggalan dengan buruannya yang sudah barang tentu punya pola pikir tertentu untuk melindungi diri dari kejahatan. Kalau lantas ada orang yang bersikap cuek terhadap seseorang yang meminta tolong di tengah keramaian, tentu tidak mengherankan. Terlalu banyak kadar curiga terhadap orang asing yang baru ditemui saat itu.

Tapi ada satu kejadian yang cukup membuat saya tersenyum. Sudah setengah tahun belakangan saya jarang beraktivitas dengan menggunakan kendaraan pribadi. Selain ingin mencoba lebih berhemat, macet yang kian parah membuat saya menyerah melajukan mobil di jalanan Jakarta, kalau kondisinya tidak mendesak. Jadi, mikrolet dan mode transportasi paling gres di Jakarta, TransJakarta, adalah teman saya dalam melibas kegiatan sehari-hari.

Mikrolet M44 adalah salah satu angkutan umum yang sering saya naiki. Dari Kampung Melayu, mikrolet ini berjalan lincah (atau pasrah) menerobos kemacetan kawasan Casablanca.

Suatu waktu, saya sedang berada di mikrolet M44. Dan saya melihat seorang penumpang lain dengan wajah kebingungan. Dengan gelisah dia berulang kali melongok ke kiri dan kanan, seakan mencari lokasi tanpa kepastian. Saat bangku depan, yang berada tepat disamping supir kosong, dia pun pindah ke depan. Tanpa banyak basa basi, dia pun langsung bertanya pada sang supir.

"Mas, apartemen Vika itu sudah lewat atau belum ya? Saya mau kesana. Apartemen yang lagi ada proyek pembangunan," ujar orang itu, seorang bapak tua dengan kisaran umur di atas 50 tahun.

Saya yang kebetulan duduk di belakang supir mendengar pertanyaan tersebut. Saya pun bingung. Seumur-umur berkeliling di daerah Kuningan-Casablanca, belum pernah saya mendengar ada kawasan apartemen dengan nama Vika. Saya pun tertarik untuk mendengar lebih lanjut percakapan antara bapak tua itu dengan si supir.

"Apartemen apa pak? Apartemen Vika? Dimana alamatnya? Lokasinya di sebelah mana? Dikasih tahu ancer-ancernya nggak?" jawab si supir kebingungan.

"Katanya di Casablanca. Apartemen Vika, lagi ada proyek disitu. Saya mau kerja bangunan disitu mas. Sudah lewat belum ya?" tanya si bapak lagi, dengan logat Jawa yang kental.

"Bapak nggak punya alamatnya? Setahu saya sih di daerah Casablanca ini nggak ada yang namanya Apartemen Vika pak. Tapi kalau proyek bangunan, ada di depan. Bapak nanti turun disitu saja, siapa tahu benar" jawab si supir.

Si bapak tua pun mengangguk, menggantungkan nasibnya kepada si supir yang masih terlihat bingung.

"Punya hp nggak pak? Telpon saja orangnya. Ada nomor telpon kenalan bapak disitu?" tanya si supir lagi.

"Nggak punya mas. Cuma dikasih tahu saja Apartemen Vika, di Casablanca, gitu. Saya baru sampai dari kampung tadi pagi di Senen. Sudah muter-muter dari pagi, belum ketemu juga," jawab si bapak, memelas.

Si supir pun diam. Memacu mikroletnya supaya lebih cepat sampai di lokasi yang tadi dimaksudnya.

Tepat di depan sebuah proyek pembangunan gedung, si supir memberhentikan mobilnya.

"Pak, ini proyek bangunan yang saya bilang. Coba bapak turun saja, langsung masuk ke dalam, tanya sama mandornya. Soalnya nggak ada lagi proyek di daerah sini," ujar si supir.

"Oh ini ya. Ya sudah saya turun sini saja mas. Semoga bener ini tempatnya ya. Capek juga saya muter terus dari pagi," jawab si bapak sambil membuka pintu, untuk kemudian turun.

Layaknya penumpang angkutan umum lain, si bapak itu memberikan sejumlah uang kepada si supir. Ongkos sesuai tarif yang berlaku. Yang mengherankan, si supir justru menolak uang tersebut dengan halus.

"Sudah pak, nggak usah bayar. Bapak langsung masuk saja ke dalam," jawab si supir.

"Wah terima kasih ya mas," ujar si bapak sambil melangkah gontai ke dalam area proyek.

Saya pun heran . Tumben seorang supir mikrolet menolak ongkos dari penumpangnya. Biasanya, ongkos kurang 500 rupiah saja ditagih. Saya pun mencoba ngobrol dengan si supir, berkaitan dengan bapak tersebut.

"Bapak itu sudah berulang kali naik mobil saya hari ini. Tadi itu sudah ketiga kalinya. Kasihan saya. Dari pagi cari lokasi kerjanya, tapi nggak ketemu. Nggak megang hp, nggak dikasih alamat jelas, main jalan saja ke Jakarta. Gimana kalau ternyata bapak itu ditipu? Lebih kasihan lagi kan? Itulah rakyat kita yang kurang pendidikan. Kurang bisa berpikir logis, kurang cermat jadinya. Kasihan. Pemerintah kurang memperhatikan nasib rakyat yang kayak bapak itu," jelas si supir panjang lebar.

Saya pun tertegun. Terkejut. Terkejut dengan kenyataan bahwa bapak itu sudah 3 kali naik angkot dengan supir yang sama, dan terkejut dengan kemurahan hati si supir.

"Kalau nanti pas saya lewat situ lagi, dan si bapak ada di depan, pasti saya suruh naik mobil saya lagi. Siapa tahu ternyata tempat itu bukan yang dicari. Saya suruh naik mobil saya, nggak usah bayar, kita cari lagi tempatnya. Kalau memang nggak ketemu, ya kita lihat nanti gimana selanjutnya," ujar si supir.

Saya yang sudah harus turun pun melangkahkan kaki keluar mikrolet. Masih dengan perasaan terkejut, sekaligus salut dengan pemikiran dan kebaikan hati si supir. Si supir tentu membutuhkan uang supaya bisa membayar setoran per harinya. Tapi dia tidak melupakan nilai-nilai kemanusiaan, nilai ketimuran lebih tepatnya, untuk membantu sesamanya. Dia rela untuk kehilangan satu ruangan penumpangnya, demi membantu seorang asing yang belum pernah ditemui sebelumnya, yang kebetulan lagi kesusahan.

Tenggang rasa itu masih ada.

Saddest Part Of A Broken Heart

Mengejar selama 2 tahun. Membangun dan menjalani selama 2 tahun. Hancur dalam 2 jam.

Kenyamanan hidup berdampingan yang sudah ada di benak, sirna begitu saja. Dukungan dan sambutan hangat itu mungkin sudah sulit dirasakan lagi. Rasa memiliki itu, entah menghilang kemana. Menguap tanpa jejak.

Konflik, pertengkaran, masalah, selisih paham, terasa seperti kenangan yang indah. Momen bahagia, mengharukan, tawa ceria yang dulu dijalani, menjadi kenangan yang menyakitkan. Mengundang derai air mata. Terkadang bisa dibendung, terkadang justru mengalir begitu saja tanpa tahu apa penyebab terbukanya bendungan tersebut.

Lantunan nada yang dulu membentuk semua kenangan saat bersama, terasa lekat. Ucapan, tulisan, suara, aksi, dan reaksi dari dirinya, jadi oase yang menyegarkan sekaligus memilukan.

Bukan, bukan masa depan lah bagian terparah dari patah hati. Saat ini, dan beberapa jam ke depan adalah jurang terdalamnya. Saat ini lah semua kenangan masa lalu datang bertubi-tubi. Seraya mengingatkan kembali, perjalanan hidup yang sudah berhasil dilalui.

Hanya butuh 2 jam, dengan halangan yang datang dari ke-2 orang tua untuk memisahkan hubungan 2 manusia, yang sudah saling tarik ulur selama 2 tahun, untuk selanjutnya menjalani hubungan indah selama 2 tahun.

The saddest part is not the ending. This is it, the saddest part of a broken heart.

Mei 21, 2010

UNDFTD Strikes Flag World Cup T-Shirts


gokil!
menyambut piala dunia yang emang udah di depan mata, UNDFTD, sebuah clothing streetwear ternama, mengeluarkan limited edition yang berbau piala dunia.
seperti yang kita udah tahu, UNDFTD emang selalu memajukan desain-desain simpel nan menohok. Enak dilihat sebagai sebuah desain grafis, enak juga dilihat sebagai sebuah desain diatas media kaos.

dengan menggunakan desain 5-strike iconic mereka, UNDFTD mencoba memasukkan warna-warna yang identik dengan beberapa negara di desainnya. logo 5-strike iconic itu diberi warna bendera beberapa negara, yang diyakini sebagai tim-tim yang harus diperhatikan di piala dunia kali ini.

ada sekitar 7 negara yang diambil oleh UNDFTD. Yaitu, Jerman, Perancis, Portugal, Inggris, Afrika Selatan, Brazil, dan Spanyol.
Koleksi ini udah bisa didapatkan sejak tanggal 22 Mei. Tentunya di toko-toko yang merupakan reseller dari UNDFTD. Atau bisa juga beli langsung di web store mereka, UNDEFEATED.






Januari 23, 2010

saigon: second day

so, this is the second day. saigon rocks!

lagi-lagi bangun pagi, demi mengejar jadwal ke cu chi tunnel. kali ini, kami pake guide yang beda dari kemarin. namanya uncle kung. orangnya cukup friendly, menyenangkan, ramah, dan banyak cerita yang menarik.

sayangnya, saya tertidur pulas saat perjalanan ke cu chi tunnel. akibat dari kurang tidur.

menurut cerita teman-teman, uncle kung sempat bercerita soal sejarah vietnam, cu chi tunnel, dan beberapa trivia menarik lainnya. malahan dia sempat membuat kuis berhadiah segala! siapa pun yang bisa menjawab pertanyaannya, bakal dapat hadiah USD 5 dari dia. sayang, dari 3 pertanyaan soal sejarah vietnam, gak ada satupun dari kami yang sukses menjawab dgn benar.

sampai di cu chi tunnel, kami langsung memakai lotion anti nyamuk di sekujur badan. gak ada satupun yang terlewat. karena menurut uncle kung, di daerah sini masih banyak nyamuk malaria. siapa juga yang mau bawa oleh oleh penyakit malaria kerumah?

ternyata, cu chi tunnel ini terbilang masih hutan banget. meskipun di beberapa spot terlihat udah ada sentuhan modern rapih.

uncle kung mulai ngejelasin satu demi satu pelosok cu chi. tentang gimana vietkong bersembunyi di bawah tanah selama bertahun tahun. gimana caranya vietkong membuat jebakan yang kuno, tapi super efisien.

di beberapa spot, tentunya rombongan bebek nggak melewatkan foto-foto. sempat ada kejadian lucu di salah satu lubang. lika gak bisa keluar dari lubang itu! sampai akhirnya harus dibantu naik oleh yg lainnya.

di cu chi, tentunya harus nyoba masuk ke tunnel yang dibikin oleh viekong. pertama, nyoba yang replika dulu. tunnel yang ukurannya udah diperbesar, supaya semua orang bisa masuk. tapi ternyata, masih sempit banget! sampai harus jalan jongkok supaya bisa maju ke depan.

sempit, gelap, sesak, lelah, membuat saya memutuskan untuk keluar di exit pertama. sementara erick dan agung keluar di exit kedua, dan sisanya berhasil menuntaskan tunnel yang lumayan panjang itu.

belum puas, rombongan bebek mencoba masuk ke tunnel yang orisinil. dengan ukuran yang pastinya lebih sempit. saya, lika, erick, dan reza memutuskan untuk nggak ikutan masuk. bersama uncle kung, kami menunggu di pintu keluar aja.

setelahnya, kami menuju ke lapangan tembak. disana kami bisa menembak, dengan membayar per peluru. berhubung duit dong kami udah hampir habis, jadi gak ada yan mencoba menembak sama sekali! hahaha!

capek dari cu chi, kami memutuskan untuk kembali ke hotel. istirahat sebentar demi mengembalikan tenaga. kami sempat berjacuzzi sebentar. supaya rileks. sebelum malamnya kami pergi lagi ke ben thanh market! another shopping session!

in the mood for:
- blur: parklife
- john mayer: battle studies
- she and him: volume 1


- Posted using BlogPress from my iPhone

Januari 16, 2010

saigon: first day pt. II

yap. lanjut lagi. bangun pagi di negeri orang. di negeri sendiri nggak pernah bangun pagi, eh ini jam 8 udah dipaksa melek.

soalnya ternyata rombongan udah mau jalan city tour jam 9. tetap aja sih ada telat telatnya dikit. ada aja yang mandinya lama, dandannya lama.

destinasi pertama, war museum. kayak study tour pelajaran pspb, alias sejarah! lewat barang-barang yang dipajang disini, pengunjung jadi bisa tahu kisah waktu dulu amerika nyerang vietnam. seru dan bikin iba juga ternyata. selama ini gw cuma nonton di tour of duty soalnya.

foto-foto, jelas jadi kegiatan utama rombongan gila 13 orang ini. ohya, saking berisiknya, guide yang nganterin kami city tour, sempat ngambek! dia malah sempet marahin kami gara-gara berisik.

selanjutnya, mampir di kuil di daerah chinatown. antiklimaks nih. mirip banget sama kuil di daerah pecinan glodok!
abis itu lanjut ke pasar tradisional yang ada di daerah situ juga. sama aja nggak serunya. mirip tanah abang lah. yang bikin seru, cuma pas nyebrangnya aja. mobil dan apalagi motor disini gila semua! nyetir kayak nggak ada hari esok! kayaknya nggak dipakein rem tuh motornya. main gas sana, gas sini aje!

akhirnya malah kami makan di kfc. beberapa orang ada yang milih untuk nyobain segala macam jajanan es yang ada disitu.

lanjut lagi ke reunion palace. semacam tempat konferensi urusan negara gitu. ohya, sebelumnya sempet mampir juga ke tempat pembuatan handycraft gitu. soktau aja, sok ngerti. tapi ternyata seru juga ngeliatin proses pembuatannya. apalagi, katanya pekerja disini adalah orang-orang nggak mampu, atau punya kekurangan fisik. jadi mereka dikaryakan disini.

abis itu lanjut lagi ke cathedral notredame. disini jelas agendanya foto-foto. paling banter, yang mukanya agak serius pas ngeliat patung jesus, bunda maria, sama regina pacis, cuma erick sama atha.

sebelum balik ke hotel, sempet mampir ke ben thant market. pasar yang jual segala ada. disini seru banget! banyak banget yang pengen gw beli. tapi tahan dulu, masih ada 2 hari disini.

jadi gw cuma beli kaos lambang bendera vietnam, sama five panel cap dengan logo yang sama. tapi jelas gw udah ngincer beberapa barang. tujuan gw, harus beli tas, sama dompet. ada beberapa tas kipling sama eastpak yang gw liat udah cocok. harganya juga murah. tapi ternyata dosir dapet tas crumpler bagus, dengan harga yang bagus pula. besok harus hunting lagi nih!

ohya, sempet juga gw beli kopi. jelas gw cobain dulu sebelumnya. rasanya enak juga. agak keras, pekat, tapi enak.
malamnya, sempet mampir ke beberapa bar, tapi nggak asik. karena beberapa bar yang kami datangi ternyata nggak nerima credit card! gagal deh ditraktir adhit.

akhinya balik ke hotel, istirahat. karena besok pagi banget, jam 8, kami harus udah jalan lagi. cu chi tunnel baby!!

so, rest well now! toodle-oo!

in the mood for:
- nick drake: five leaves left
- sigur ros: agaetis byrjun
- kanye west: graduation

- Posted using BlogPress from my iPhone

Januari 15, 2010

saigon: first day

yap. here i am. saigon, ho chi minh city, vietnam.

nyampe di bandara entah apa namanya (asli susah disebut nih nama bandara di saigon), langsung nuker duit. jadinya dpt lumayan juga. abis itu langsung pesen mobil, buat jalan ke hotel.

berhubung rombongannya 13 orang, jadi harus nyari mobil yang agak gede. beruntung, ternyata ada mobil yang bisa muat 16 orang! langsung deh ngambil yang itu.

begitu jalan ke parkiran, ternyata mobilnya lumayan. van mercy gede gitu. beda tipis lah sama yang ada di bangbus.
dirty sanchez!!

di dalem mobil, rombongan norak ini berulah lagi. setelah tadi ngacak2 pesawat, sekarang giliran mobil ini yang diacak-acak. alih alih langsung ke hotel, anak-anak justru minta keliling kota sebentar. untungnya supirnya setuju. kita kasih tips 50ribu dong.

hotel tempat nginep di saigon namanya red sun hotel. hostel backpacker. disambut sama resepsionisnya yang super ramah, dan yang super rame.

ternyata hostelnya bagus banget! untuk ukuran hostel backpackers lho ya. termasuk yang lengkap, bersih, bagus, dan terawat. malah teman gw bilang,kamarnya udah kayak hotel kelas melati.

nggak pakai lama, rombongan langsung bergerak cari makanan. sempat bingung milih tempat makanan. akhirnya diputusin di resto yang namanya mimosa. disitu sedia makanan vietnam, italy, mexican, sama asian.

pilihan makanan gw jatuh ke babi panggang dengan kuah mustard, bawang bombay, dan potongan jamur yang banyak. makannya jelas pakai nasi. rasanya enak banget! porsinya banyak! pas, sesuai! harganya? 65ribu dong, alias 32500 rupiah! minumnya vietnamese ice tea dulu.

lanjut ngebir saigon red beer. sebenarnya ada saigon green beer. tapi kata waitress-nya, saigon red beer lebih strong. pas dicoba, enak kok rasanya!

abis makan, balik ke hotel deh nih. istirahat dulu, siap-siap fisik buat besok. rencananya mau jalan kaki ke beberapa tempat.

haduh, ayo jalan 10ribu langkah untuk menghindari osteoporosis!

in the mood for:
- the strokes: is this it
- sigur ros: takk
- bright eyes: cassadega


- Posted using BlogPress from my iPhone

Januari 14, 2010

get ready for saigon trip

ok. it's past midnight. and later at 3pm, i have to catch my flight to saigon a.k.a. ho chi minh city.

yap! 4 hari 3 malam kedepan, saya akan berada di ground zero pertempuran sengit antara amerika-vietkong yang terjadi beberapa tahun lalu. nggak tahu juga sih mau ngapain disana. liburan aja. pasti ada sesuatu yg seru yg bisa dilakukan disana.

jadi, malam ini saya seharusnya bersiap-siap. memasukkan tumpukan baju ke dalam tas, menyusun dokumen penting yang harus dibawa, dan sebagainya.
alih alih melakukan itu semua, saya malah asik menyeruput kopi, merokok, dan bermain- dengan iphone. gimana urusan barang bawaan buat nanti? ya dipikirin nanti aja lah! hehehe.

yang pasti, saya udah menyiapkan amunisi lagu-lagu bagus yang menurut saya bisa membuat perjalanan kali ini bertambah khidmat.
udah ahh, tidur aja. biar nanti nggak bgn kesiangan!
toodle-oo!

in the mood for:
- jay z: blueprint III
- bob dylan: nashville skyline
- suede: coming up


- Posted using BlogPress from my iPhone

Januari 12, 2010

the car

sendirian, di dalam mobil, di sebuah tempat peristirahatan di pinggir jalan tol, dan mengantuk.

ini lah yang saya dapat akibat keteledoran yg saya lakukan hari ini. lupa bawa kunci rumah, dan adik saya pergi ke semarang.

sial memang. apa boleh buat? mau nggak mau, harus diterima. ini konsekuensinya.

apa ini ya yang dirasakan oleh para supir kendaraan antar kota antar propinsi itu?
apa ini ya yang dirasakan oleh band band kecil dengan modal pas pasan yang lagi mati matian menggelar tur keliling di negara maju?
kalau iya jawabannya, berarti ada untungnya juga saya bisa merasakan pengalaman ini.

lagipula, ini nggak seburuk yang dibayangkan. hanya berdiam diri menunggu pagi, di tempat peristirahatan yang ada di pinggir jalan tol. keamanannya pun kayaknya bisa diandalkan. daritadi saya menangkap para satpam yang selalu mengelilingi area parkir ini. nggak jauh dari tempat saya berhenti, ada minimarket yang buka 24 jam. so, kalau saya butuh sesuatu, either itu makanan atau minuman, tinggal melenggang saja kesana. suasananya pun begitu. nikmati saja langit gelap dengan hiasan bulan dan bintang, sambil sesekali memandangi kerlipan lampu mobil (banyakan truk!) yang melintasi jalan tol ini. masih ada bonus sound effect knalpotnya, yang kadang terdengar kayak hasil suara dari Boss SD-1. distortif!

all in all, seru juga malam ini. paling nggak, saya jadi punya kesempatab untuk meng-update tulisan di blog. ahh, selonjoran, langit dan angin malam, suara bersahutan, kopi hangat, dan rokok.
sial! nggak boleh ngerokok disini ternyata! karena ada pom bensin di sebelahnya! ARGH!! ini baru masalah!

in the mood for:
- paper route : absence
- seabear : ghost that carried us away
- oasis : be here now


- Posted using BlogPress from my iPhone

Januari 07, 2010

test..test..

hello people!

just testing the new gadget that i got recently..new gadget, new technology..so i have to adapt to it..
soon i will be posting more..cause i'm sure it's a lot easier to post something this way..

*bahasa Inggris asal, maaf yah! :p*


- Posted using BlogPress from my iPhone

Juli 25, 2009

lari

di tengah hiruk pikuk hari-hari saya yang makin nggak menentu, ada kalanya saya ingin lari dari semua itu.
pergi, entah kemana. ke suatu tempat yang membuat saya merasakan hal yang berbeda.
baik di luar kota, atau di tengah kota.
kemana saja! ke tempat yang bisa membuat saya merasa sendiri. tenang dalam kesendirian.
ya. saya ingin sendiri, untuk beberapa saat. kesendirian yang menenangkan. bukan kesendirian yang membuat terpuruk.

ada kalanya duduk-duduk sendirian di sebuah coffee shop, sambil menenggak segelas kopi mocha hangat, adalah momennya.
ada kalanya pergi ke bioskop, untuk menonton sebuah film box office sendirian, adalah momennya.
ada kalanya bermobil mengitari kota jakarta, ditemani 2 kaleng bir dingin, sebungkus rokok, dan tentunya musik yang bagus, adalah momennya.
anything! apa saja! saya butuh apa pun kegiatan yang membuat saya merasa nyaman dengan kesendirian, dan sejenak lari dari hectic-nya hari-hari saya.

mungkin tidak harus pergi berlibur keluar kota, atau bahkan keluar negeri, yang membuat saya harus menghamburkan banyak uang.
karena saya sendiri merasa, masih banyak yang harus saya beli untuk saat ini.
beberapa contoh kegiatan diatas rasanya cukup untuk melarikan diri saya sejenak dari kenyataan yang ada.

sudah lama saya tidak melakukan perjalanan keliling jakarta, dengan menggunakan angkutan umum.
dulu, di masa awal kuliah, saya sering melakukan hal ini dengan sahabat-sahabat saya.
terasa menyenangkan sekali! walaupun akhir yang kami dapat seringkali adalah kelelahan luar biasa.
tapi kegiatan itu terasa menyenangkan! paling tidak, untuk saat itu.

sekarang, seiring dengan makin banyaknya kegiatan personal yang harus kami lakukan masing-masing, kegiatan itu terlupakan.
kami tidak pernah lagi berkeliling sambil tertawa dan mengumpat menggunakan angkutan trans jakarta.
kami tidak pernah lagi duduk selama berjam-jam di halte bis pinggiran jalan thamrin, menunggu bis yang mengantar kami pulang.
kami tidak pernah lagi menyusuri jalan protokol di jakarta, hanya demi melarikan diri sejenak dari kenyataan yang ada.
dan kami tidak pernah lagi dipertemukan secara tidak sengaja, di kala kami menunggu bis masing-masing. yang seringkali berakhir dengan perjalanan tanpa destinasi yang kami lakukan seharian.

ahh, kinda miss that moment.

current playlist:
- jack johnson: curious george.
- feist: let it die
- bright eyes: i'm wide awake, it's morning
- weezer: blue album

Juli 08, 2009

watak

menarik untuk melihat berbagai sifat orang yang berbeda-beda.
manusia memang diciptakan dengan sifat, dan watak yang berbeda-beda.
disitulah letak, betapa pentingnya untuk bisa mengenal banyak orang, dan bergesekan dengan sifat dan wataknya yang berbeda-beda juga.

tidak jarang juga, untuk bisa mengenal sifat dan watak seseorang, kita harus menghabiskan banyak waktu bersama terlebih dahulu.
paling tidak, meluangkan waktu beberapa hari bersamanya.
setelahnya, mungkin kita akan bisa melihat bagaimana sifat dan watak aslinya.

karena, pastinya kita kan melewati berbagai kegiatan bersamanya.
mulai dari makan, nonton, nonton konser, belanja cd, melihat-lihat obralan pakaian, minum kopi bersama, dan lainnya.
ya dari situ lah kita bisa melihat, bagaimana orang tersebut menyikapi kegiatan yang kita lakukan bersama.
apakah dia menikmatinya?
apakah dia membencinya?
apakah dia rela untuk menguras kantongnya, demi keberlangsungan kegiatan tersebut?
apakah dia akan berbuat apa pun demi keuntungan dirinya sendiri, dalam kegiatan tersebut?

ya. semua ada disitu.
pelit. rakus. baik. royal. lembut. keras. curang. jujur. you name it!

goodluck with all that stuff!


current playlist:
- the libertines: up the bracket
- my bloody valentine: loveless
- pulp: different class
- the trees and the wild: rasuk

oasis, dig out your soul tour 2009

oasis, dig out your soul tour 2009
april 5, singapore indoor stadium

jam 8an lampu panggung mati, tanda konser dimulai. langsung kedengeran lagu fuckin in the bushes, yang emang selalu jadi lagu pembuka di tiap konser oasis. merinding? pasti! tapi lagu selanjutnya bikin lebih merinding. rock and roll star!
seisi stadion meneriakkan bait, "tonite, i'm a rock and roll star!".

penonton yang udah panas masih dibakar lagi dengan lyla, yang jadi lagu selanjutnya. disambung the shock of the lightning, cigarettes & alcohol, yang beberapa lagu baru yang blm akrab di kuping.

lagu ke 8 jadi titik baliknya. liam gallagher melenggang ke belakang panggung, dan menyerahkan kendali pada noel gallagher. langsung terdengar intro the masterplan, dan lagu yang bernuansa syahdu nan megah itu sukses mengucurkan beberapa tetes air mata.

songbird, morning glory, i'm outta time, dan slide away jadi momen indah yang menyambung. sensasi melihat keangkuhan dua bersaudara asal manchester ini emang fantastis.
terlebih untuk liam, dimana dia sempat mengejek arsenal diatas panggung. setelah diteliti, ternyata malam itu klub kebanggaan mereka, manchester city kalah melawan arsenal.

usia yang makin menua sedikit banyak mempengaruhi performa liam dalam beraksi. beberapa kali dia terdengar nggak kuat untuk menyanyikan nada-nada tinggi. beberapa kali juga dia membuat penonton berteriak histeris, dengan melemparkan tamborin ke arah penonton.

wonderwall, dan supersonic jadi lagu terakhir sebelum mereka menghilang ke balik panggung. sedikit catatan, sebelum menyanyikan wonderwall, liam sempat salah menyebut judul lagu. dia mengatakan bahwa lagu selanjutnya adalah some might say. padahal, noel langsung memainkan lagu wonderwall.

nggak berapa lama, mereka kembali ke atas panggung. tapi kali ini tanpa liam. noel berbasa basi sebentar, entah apa yang diucapkannya. maklum, aksen inggrisnya yang kental membuat kata-katanya susah terdengar. lagu pembuka encore adalah lagu yang bisa dibilang salah satu jagoan di era 90an. don't look back in anger.
langsung seisi stadion yang nggak kurang dari 6000 orang menyanyikan bait demi bait dengan khusyuk.

falling down menyambung keriuhan yang ditimbulkan oleh don't look back in anger. penonton baru ditenangkan dengan lagu selanjutnya, champagne supernova! ini dia lagu yang ditunggu-tunggu! megah!

oasis menutup konser malam itu dengan sempurna. sebuah hits milik the beatles, yang notabene adalah idola mereka, i am the walrus, seakan menjadi lagu kebangsaan yang membuat malam itu sempurna. liam mengakhiri malam itu dengan pose andalannya. memasukkan kedua tangannya ke dalam overcoat panjangnya, dan tatapan menyeramkan, seolah menatap seribu yard jauhnya ke depan.

umroh mabrur! (ada gak sih istilah ini?)

setlist
fuckin in the bushes
rock and roll star
lyla
the shock of the lightning
cigarettes & alcohol
the meaning of soul
to be where there's life
waiting for the rapture
the masterplan
songbird
slide away
morning glory
ain't got nothin'
the importance of being idle
i'm outta time
wonderwall
supersonic

encore
don't look back in anger
falling down
champagne supernova
i am the walrus

Juli 03, 2009

jenuh

rutinitas.
bosan, jenuh, penat.

empat kata diatas bisa jadi sangat berhubungan.
entah yang mana sebab, yang mana yang jadi akibatnya.
buat saya, sebabnya adalah rutinitas, yang berakibat pada kebosanan, kejenuhan, dan kepenatan.
paling tidak, hal ini lah yang saya rasakan beberapa waktu belakangan ini.

sudah dua bulan terakhir ini, saya merasa seperti zombie dalam menjalani hari-hari saya.
tidak ada lagi semangat, tidak ada lagi passion yang membara.
yang tersisa hanya tanggung jawab, dan rasa yang tidak bisa saya deskripsikan.
passion yang tersisa hanya sedikit. sedikit sekali. seperti cahaya lampu 10 watt, yang dipakai untuk menerangi seisi rumah.

kantor dan pekerjaan, sudah pasti jadi yang pertama terkena efeknya.
pasalnya, dari sini jugalah saya mendapatkan yang namanya rutinitas tersebut.

padahal, bisa dibilang kalau pekerjaan saya sangat dinamis.
saya tidak harus berada di kantor dari jam 9 pagi, sampai jam 5 sore.
memang benar kalau saya harus berada di kantor tiap hari.
tapi itu pun tidak lantas mengharuskan saya untuk berdiam diri di kantor sepanjang hari.
justru itu yang rasanya susah saya lakukan.
ada saja pekerjaan yang membuat saya harus melangkah gontai keluar kantor.
seru, dinamis, mungkin. tapi entah kenapa, saya merasa bahwa itu lah rutinitas yang sudah saya jalani, paling tidak selama 2 tahun belakangan.

rutinitas tersebut jelas membawa dampak pada kehidupan saya.
seperti yang sudah saya tulis sebelumnya, saya merasa seperti zombie dalam menjalani rutinitas tersebut.
ya. saya senang saat mendapatkan rekaman musik terbaru dalam bentuk apa pun.
ya. saya senang saat bisa menonton sebuah film box office musim panas, seminggu, 2 minggu, bahkan sebulan sebelum orang lain bisa menontonnya.
ya. saya senang bisa menonton konser-konser musik secara gratis.
ya. saya senang bisa mendapat kesempatan untuk mengenal lebih jauh musisi-musisi hebat. baik kelas lokal, atau pun internasional.
ya. saya senang bisa menyaksikan kegiatan para musisi internasional yang sedang melawat ke jakarta.
tapi, saat semua itu sudah menjadi kegiatan yang berulang-ulang, apakah sensasinya masih sama?
saya rasa tidak.

dulu, pertama kali saya menjalani pekerjaan ini, pertama kali saya menonton konser secara gratis, saya merasa sangat senang.
saya merinding. saya tidak bisa berhenti tersenyum, dan terkagum-kagum dengan penampilan band yang ada di hadapan saya.
padahal, saya tidak begitu menyukai musik yang mereka mainkan. bukan jenis musik yang jadi teman hidup saya.
tapi itu lah sebuah konser. bisa membuat adrenalin mengalir dengan deras, dan menimbulkan sensasi yang luar biasa.

tapi apa yang saya rasakan sekarang, berbeda dengan saat itu.
saya tidak lagi merasakan adrenalin rush dengan sensasi yang luar biasa.
kecuali, saat saya menyaksikan konser musisi idola, yang lagu-lagunya sudah menjadi teman hidup saya.
lain kondisinya saat saya harus menonton konser, karena ada tanggung jawab di pundak saya.
dulu mungkin saya tetap merasakan adrenalin rush yang luar biasa.
tapi sekarang, tidak lagi.

entah apa obat yang paling mujarab untuk menghilangkan kebosanan, kejenuhan, dan kepenatan ini.
liburan? mungkin bisa.
paling tidak, saya sudah mencoba beberapa kali.
ditambah lagi, liburan terakhir saya adalah menonton konser salah satu band idola, yang digelar di negeri seberang.
apakah saya harus melakukan liburan semacam itu berulang kali? tiap kali saya merasakan kejenuhan ini?
apakah nantinya liburan semacam itu tidak akan menjadi sebuah rutinitas, kalau terus-terusan saya lakukan?
akankah saya kehilangan esensi dari liburan semacam itu nantinya?

ahhh, sudahlah.


current playlist:
- blur: parklife
- death cab for cutie: plans
- monkey to millionaire: lantai merah
- conor oberst: s/t

Juli 01, 2009

hello!

it's been a while since the last post, i know.
i've been so busy with everything in my life. and i mean, everything.
office stuff. college stuff. friendship stuff. and even personal stuff, like relationship.
but hey, that's life. everything in between, makes life more complicated, yet interesting.

transformers: revenge of the fallen.
salah satu film yang jadi omongan banget tahun ini. salah satu film yang paling ditunggu tahun ini.
begitu nonton, emang nggak mengecewakan sih.
tapi, what's so special about this movie?
sepanjang durasi 2 jam lebih, kita disuguhkan tontonan dengan teknologi tercanggih masa kini.
michael bay mamerin semua kebisaan amerika dalam menyuguhkan gambar terbagus.
tapi, kalo liat ceritanya? formula lama.
emang berasa banget, kalo tumpukan dolar yang dihabiskan michael bay, terbuang untuk cgi, dan teman-teman semacamnya.
ditambah lagi, penyampaian ceritanya pun setipe dengan transformer 1.
jadi inget jerry bruckheimer. ada masa di mana dia membuat deretan film, dengan formula yang selalu sama. keciri banget! dan nggak ada kejutan dari film-film karyanya. semoga bay nggak jadi kayak gini ke depannya.

ohya, kemarin-kemarin sempat ngorek-ngorek tumpukan dvd di kamar.
dan saya berhasil menemukan science of sleep, dan the wall.
yang satu adalah salah satu masterpiece michel gondry, sementara yang lainnya adalah film psikedelik yang terinpirasi dari band inspiratif, pink floyd.
menyenangkan juga rasanya menonton kembali film-film seperti itu.

sepertinya, minggu ini saya akan kembali mengorek-ngorek tumpukan dvd di kamar. memutar kembali dvd-dvd lama, dan mencoba mendapatkan sensasinya kembali. hope so.
anyway, saya tertarik untuk memesan pre order cd blur live in hyde park. semoga gak bikin bangkrut ya.

current playlist:
- the cure : wish
- the postal service: give up
- death cab for cutie: open door EP
- graham coxon: the spinning top

Desember 23, 2008

seseruan bareng solucite dan as i lay dying


sekali lagi saya berkesempatan untuk menemani band luar yang datang ke jakarta. kali ini, diawali dengan ketakutan yang amat sangat, diakhiri dengan luar biasa.

kali ini giliran as i lay dying yang berkunjung ke jakarta. band metalcore yang emang punya nama besar ini menyambangi jakarta dalam rangkaian an ocean between us tour 2008. jakarta adalah nama kedua di asia tenggara yang mereka kunjungi, setelah bangkok, thailand. tapi, akhirnya jakarta menjadi satu-satunya kota di asia tenggara yang mereka kunjungi. setelah ada beberapa kejadian yang cukup mencekam.

di televisi, saya melihat berita tentang demonstrasi besar-besaran yang mencekam di bangkok. setelah selesai melihat berita tersebut, saya langsung bergerak dari kantor, menuju hotel sultan. dimana saya janjian dengan teman-teman dari solucite, promotor yang mendatangkan as i lay dying ke jakarta.

dari tour dates as i lay dying yang saya tahu, sebelum ke jakarta, mereka akan main di bangkok rock festival terlebih dulu. nah, berita yang saya saksikan di televisi barusan, tentu aja menimbulkan banyak tanya di benak saya. apakah as i lay dying jadi main di bangkok? apakah mereka baik-baik saja di bangkok? apakah ada pengaruhnya demonstrasi di bangkok, dengan jadwal show mereka di jakarta?

sesampainya di hotel sultan, saya bertemu dengan arry, salah seorang teman dari solucite. dia memberi tahu bahwa as i lay dying terjebak di bangkok. karena bandara svarnabhumi di tutup oleh para demonstran.

mulai dari malam itu sampai beberapa hari kedepan, saya dan teman-teman solucite berpikir keras. mencari cara supaya bisa mengeluarkan as i lay dying dari kerusuhan di bangkok, dan membawa mereka ke jakarta. kontak dengan pihak as i lay dying pun terus dilakukan. semata-mata untuk memonitor keadaan mereka disana, dan tentunya keadaan di sekitar mereka.

“That was horrible! Kerusuhan yang ada di Thailand benar-benar menyeramkan! Kami nggak bisa kemana-mana. Kami benar-benar dilanda ketakutan. Yang kami inginkan saat itu hanyalah secepatnya keluar dari Bangkok,” ujar Nick Hipa (gitar), yang saat dijemput di bandara mulai terlihat lega.

alternatif yang muncul adalah membawa rombongan as i lay dying dari bangkok ke phuket lewat jalan darat, lalu terbang ke jakarta dari sana. pilihan lainnya adalah membawa mereka ke laos, lalu melanjutkan terbang ke jakarta. apa daya, kedua rencana tersebut gagal dijalankan!

akhirnya, dengan berat hati, pihak solucite memutuskan untuk mengundur konser as i lay dying ke hari minggu (30/11), dari jadwal semula hari kamis (27/11). sambil tidak lupa untuk terus mencari cara untuk menerbangkan as i lay dying dari bangkok ke jakarta.
salah seorang rekan yang ada di bangkok dikontak, dan diharap bisa memberi petunj
uk kepada as i lay dying.
rencana kembali menemui beberapa hambatan. mulai dari masalah waktu, sampai masalah van berisi rombongan as i lay dying yang tidak bisa menembus perbatasan. shite!

kami mulai mendapat pencerahan saat mendengar kabar bahwa rombongan as i lay dying bisa menggunakan penerbangan di utapao. sebagai pangkalan militer, tentu aja utapao luput dari aksi boikot para demonstran. dengan bantuan salah seorang te
man di bangkok, rombongan as i lay dying dibawa ke utapao lewat jalan darat. mereka harus menempuh perjalanan selama 3 jam.

hari sabtu pagi, kabar terbaru berhembus. rombongan as i lay dying sudah sampai di utapao, namun antrian yang ada di bandara militer tersebut panjang sekali.

“Wah, di Utapao itu gila banget! Disana cuma ada 4 baris, tapi orang yang berebut ingin keluar dari Thailand, jumlahnya ribuan! Untung kami bisa segera check in,” sambung Tim Lambesis (vokal), yang mengaku bahwa saat tiba di Jakarta, dia baru bisa tersenyum.

robin hutagaol, diutus oleh pihak solucite untuk menjemput rombongan as i lay dying di kuala lumpur. pasalnya, penerbangan dari utapao bakal transit terlebih dulu di kuala lumpur, sebelum akhirnya sampai di jakarta. begitu robin bertemu dengan rombongan as i lay dying di kuala lumpur, dia langsung mengurus segala keperluan as i lay dying, dan langsung terbang ke jakarta. tentunya sambil menenangkan mereka, yang terlihat ketakutan dan stres.
hari sabtu (29/11) pukul 10 malam, rombongan as i lay dying tiba di jakarta dengan selamat. amin! saya yang ikut menjemput mereka di bandara, jadi lega juga. dimulailah petualangan saya bersama as i lay dying.

salah satu hal yang ingin secepatnya dilakukan para personil as i lay dying adalah belanja pakaian. selain istirahat tentunya.

“Saya udah pakai kaos ini selama 5 hari! Soalnya barang-barang kami masih tertahan di bandara Svarnabumi,” ujar Nick, saat tiba di bandara Soekarno-Hatta, sambil menunjuk kaos yang dia pakai.

setelah membiarkan mereka beristirahat di kamarnya masing-masing di hotel sultan, hari minggu pagi rombongan langsung berangkat ke senayan city. selain untuk belanja, tentunya untuk jalan-jalan, supaya mereka bisa santai sebelum malamnya menggempur pecinta metalcore jakarta.



sebelum berangkat ke senayan city, kami membuat semacam kejutan untuk nick hipa. gitaris berambut kriwil itu berulang tahun ke 26, tepat di tanggal 30, tanggal konser mereka di jakarta. setelah menyelesaikan sarapan, rombongan dibawa ke salah satu sudut cafe di hotel sultan. kami yang udah kongkalingkong dengan tim, sang vokalis, menyiapkan sebuah kue tart untuk nick. tidak berapa lama kemudian, kue lengkap dengan hiasan bertuliskan selamat dan angka 26 diatasnya, dikeluarkan.



“Waw! Thanks a lot guys! What a surprise! You guys know my birthday, ini sangat menyenangkan. Saya kaget dengan semua ini, saya nggak pernah nyangka bakal ada kejutan untuk saya. Terima kasih ya,” ujar Nick, panjang lebar, sesaat setelah kue dikeluarkan, dan semua orang menyanyikan lagu Happy Birthday.



tanpa banyak basa basi, nick meniup lilin yang ada di atas kue, dan langsung memotong kuenya. sejurus kemudian, dia membagi-bagikan potongan kue kepada teman-teman yang ada disekitarnya. sembari membagikan kue, tak henti-hentinya nick menggeleng-gelengkan kepala, tanda tak percaya bahwa ulangtahunnya dirayakan oleh teman-teman solucite.
selamat ulang tahun nick!

stres yang melanda
mereka terlihat mulai sirna. terbukti dengan banyaknya canda yang mereka tebar, serta betapa ramahnya mereka kepada saya dan teman-teman.
rombongan as i lay dying yang terdiri dari nick hipa
(gitar), tim lambesis (vokal), jordan mancino (drum), josh gilbert (bas), phil sgrosso (gitar), shannon (tunangan phil), langsung menaiki mobil dengan semangat.

berbagai toko mereka sambangi. akhirnya, topma
n yang jadi pilihan mereka. nick mulai melihat-lihat celana jeans, diikuti oleh tim yang ikutan membeli celana jeans. sementara jordan asyik memilih-milih kaos dan celana pendek. lain lagi dengan josh yang terlihat kebingungan dengan deretan pakaian yang ada. phil dan shannon, terlihat selalu kompak dalam memilih baju. menghabiskan sekitar satu setengah jam di topman, ternyata banyak juga pakaian yang mereka beli.

“Finally, we are gonna use clean clothes today!” teriak Jordan, yang diikuti Nick dan Tim, yang juga senang begitu dapat pakaian baru.

puas mendapatkan pakaian baru, mereka memutuskan untuk mampir sebentar di starbucks. maklum, ternyata mereka adalah pecinta kopi dan teh. mereka ingin bersantai sejenak menikmati kopi dan teh, setelah membeli pakaian.

sore hari menjelang, kami pun beranjak menuju venue. as i lay dying harus melakukan
sound check. dan tebakan saya, mereka akan melakukan sound check dengan proses yang cukup lama. pasalnya, alat musik mereka masih tertahan di bangkok semua. jadi, yang mereka gunakan di jakarta adalah alat pinjaman, yang tentu aja disesuaikan dengan permintaan mereka. teman-teman dari andra and the backbone, teman-teman di seringai, sampai teman-teman di boomerang, membantu meminjami alat musik mereka dengan senang hati.

di sela-sela proses sound check, saya menawarkan beberapa barang "khas" indonesia. yaitu rokok dji sam soe, dan sebotol teh botol sosro. nick hipa, yang suka sekali dengan teh, langsung kepincut dengan rasa teh botol sosro. dia pun meminta tolong untuk disiapkan beberapa botol di ruang ganti mereka. sementara phil sgrosso berkata dia mual setelah mencoba sebatang rokok dji sam soe. kontras dengan tunangannya, shannon, yang mengakui bahwa dia suka sekali dengan rasa dji sam soe. shannon hanya kebingungan dengan durasi rokoknya yang tidak habis-habis.

esok harinya, mereka kerap mengeluarkan komentar tentang betapa puasnya mereka dengan metalhead jakarta.

“Tadi malam sangat menye
nangkan. Metalhead Jakarta seru banget! Sepanjang konser mereka mengeluarkan energi yang luar biasa. Tentu aja kami juga jadi all out, dalam beraksi di panggung,” ujar Tim, yang di iyakan oleh Nick, dan Phil.

saat makan siang di fx itu, saya menawarkan pada mereka untuk mencoba makanan khas indonesia. nick yang siang itu mencoba rawon, langsung jatuh cinta. menurutnya, rasa rawon mirip dengan makanan khas hawaii, kampung halamannya. sementara tim dan josh terlihat kepedasan saat mencoba memakan tahu goreng dengan cabai rawit. siapa suruh juga memakan cabai rawitnya terlebih dahulu sebelum tahu gorengnya?

“Thanks a lot for you, guy's. Kalian udah berhasil mengeluarkan kami dari kekacauan di Bangkok. Kami sangat-sangat menghargai kerja keras kalian. Semoga kalian senang dengan penampilan kami tadi malam,” ujar Jordan, dalam perjalanan ke bandara.

akhirnya waktunya tiba, saatnya berpisah dengan as i lay dying. pesawat dari japan airlines akan membawa mereka kembali ke amerika.

“See you soon in another time! Thank a lot, we are really appreciate it!” ujar Nick, sesaat sebelum berpisah.

see you as i lay dying. thank's!