A man is a success,
if he gets up in the morning,
and gets to bed at night,
and in between...
he does what he wants to do.
Bob Dylan.
a bunch of this and that
Juli 08, 2009
oasis, dig out your soul tour 2009
april 5, singapore indoor stadium
jam 8an lampu panggung mati, tanda konser dimulai. langsung kedengeran lagu fuckin in the bushes, yang emang selalu jadi lagu pembuka di tiap konser oasis. merinding? pasti! tapi lagu selanjutnya bikin lebih merinding. rock and roll star!
seisi stadion meneriakkan bait, "tonite, i'm a rock and roll star!".
penonton yang udah panas masih dibakar lagi dengan lyla, yang jadi lagu selanjutnya. disambung the shock of the lightning, cigarettes & alcohol, yang beberapa lagu baru yang blm akrab di kuping.
lagu ke 8 jadi titik baliknya. liam gallagher melenggang ke belakang panggung, dan menyerahkan kendali pada noel gallagher. langsung terdengar intro the masterplan, dan lagu yang bernuansa syahdu nan megah itu sukses mengucurkan beberapa tetes air mata.
songbird, morning glory, i'm outta time, dan slide away jadi momen indah yang menyambung. sensasi melihat keangkuhan dua bersaudara asal manchester ini emang fantastis.
terlebih untuk liam, dimana dia sempat mengejek arsenal diatas panggung. setelah diteliti, ternyata malam itu klub kebanggaan mereka, manchester city kalah melawan arsenal.
usia yang makin menua sedikit banyak mempengaruhi performa liam dalam beraksi. beberapa kali dia terdengar nggak kuat untuk menyanyikan nada-nada tinggi. beberapa kali juga dia membuat penonton berteriak histeris, dengan melemparkan tamborin ke arah penonton.
wonderwall, dan supersonic jadi lagu terakhir sebelum mereka menghilang ke balik panggung. sedikit catatan, sebelum menyanyikan wonderwall, liam sempat salah menyebut judul lagu. dia mengatakan bahwa lagu selanjutnya adalah some might say. padahal, noel langsung memainkan lagu wonderwall.
nggak berapa lama, mereka kembali ke atas panggung. tapi kali ini tanpa liam. noel berbasa basi sebentar, entah apa yang diucapkannya. maklum, aksen inggrisnya yang kental membuat kata-katanya susah terdengar. lagu pembuka encore adalah lagu yang bisa dibilang salah satu jagoan di era 90an. don't look back in anger.
langsung seisi stadion yang nggak kurang dari 6000 orang menyanyikan bait demi bait dengan khusyuk.
falling down menyambung keriuhan yang ditimbulkan oleh don't look back in anger. penonton baru ditenangkan dengan lagu selanjutnya, champagne supernova! ini dia lagu yang ditunggu-tunggu! megah!
oasis menutup konser malam itu dengan sempurna. sebuah hits milik the beatles, yang notabene adalah idola mereka, i am the walrus, seakan menjadi lagu kebangsaan yang membuat malam itu sempurna. liam mengakhiri malam itu dengan pose andalannya. memasukkan kedua tangannya ke dalam overcoat panjangnya, dan tatapan menyeramkan, seolah menatap seribu yard jauhnya ke depan.
umroh mabrur! (ada gak sih istilah ini?)
setlist
fuckin in the bushes
rock and roll star
lyla
the shock of the lightning
cigarettes & alcohol
the meaning of soul
to be where there's life
waiting for the rapture
the masterplan
songbird
slide away
morning glory
ain't got nothin'
the importance of being idle
i'm outta time
wonderwall
supersonic
encore
don't look back in anger
falling down
champagne supernova
i am the walrus
Juni 26, 2008
death cab!
tiba-tiba seorang temen mengirim sms.
isinya adalah, memberitahu bahwa death cab for cutie akan menggelar konser di singapore pada tanggal 12 agustus!!
ditutup dengan kata tanya,
"berangkat gak nyet?"
pengen sih. tapi gimana kondisi keuangan? mana lagi banyak yang ingin saya beli.
belum lagi kebutuhan yang harus dibeli. haduh.
dikantor juga ada yang ikutan mengajak nonton. haduh!
Maret 12, 2008
D-Day part 2
Day 2. It’s the D-Day. This is it. This is the time. This is the moment I’ve been waiting for. Robert Smith and friends are gonna rocking my night, my mind, my heart, my brain, my feeling, all I have in me.
A NIGHT WITH THE CURE
LIVE IN SINGAPORE
TONITE!
Yap! Akhirnya sampai juga kaki ini di Singapore Indoor Stadium. Kali ini, hanya saya dan temen saya, Teguh, yang turun dari taksi. Pasalnya, saudara saya, Aji, tidak ikut dalam rangkaian “naik haji” ini. Maka, dia memutuskan untuk menunggu kami di studio miliknya di daerah Geylang.
Deg-degan? Pasti!
Ini adalah konser yang akan jadi salah satu momen terpenting dalam hidup saya. Tanpa banyak basa basi, saya dan Teguh langsung melangkahkan kaki, menuju kerumunan orang-orang.
Ternyata, ada beberapa wajah yang akrab disana.
Ada Oom Leo-nya Goodnight Electric! Ada juga Wendi a.k.a. Wenz Rawk-nya Rolling Stone. Hebat!
“Eh, lo festival kan? Kok belum ngantri? Setahu gue antriannya udah panjang lho!” ujar Oom Leo mengingatkan saya.
Waduh! Keruan saya langsung berlari menuju pintu masuk untuk mengantri. Dan benar saja, antrian sudah terlihat lumayan panjang. wah, gawat nih. Saya bisa melihat rombongan whisperdesire ada di antrian depan. Selain itu, ada juga Marsha dari Trax FM, yang berada tidak jauh dari mereka. Maka, saya memutuskan untuk langsung masuk dalam antrian. Untung, saya berada tidak jauh dari Marsha.
Singkat cerita, antrian berlangsung lancar. Cepat, tidak bertele-tele. Saya agak tertahan saat body checking. Rupanya pemeriksaan mereka sangat ketat! Kurang lebih saya menghabiskan sekitar 2 menit disini.
Buang-buang waktu! pikir saya dalam hati.
Selesai dengan urusan body checking, saya langsung berlari kedalam Singapore Indoor Stadium. Untung saja belum begitu banyak orang di depan panggung. Inisiatif, saya langsung menuju kerumunan dimana banyak wajah yang familiar. untuk menembus kedepan, diperlukan tekad ala Indonesia rupanya. Dengan muka tebal, saya menerobos kerumunan di depan panggung, dan berhasil mendapatkan spot paling nyaman. Menurut saya.
Saya berada di sebelah anak-anak whisperdesire. maka saya langsung memulai percakapan dengan mereka. Menebak-nebak lagu yang akan dibawakan oleh The Cure malam itu. Secara tidak sengaja, ternyata di sebelah kanan saya, ada Betmen dan Nasta. Pasangan ini rupanya berhasil menerobos kedepan juga! Hehehe.
Saya berada tepat di tengah, tepat di depan stand mic yang akan digunakan oleh Robert Smith nantinya. Lovely! Tempat ini pas sekali!
Tidak berapa lama kemudian, suasana makin bikin merinding. Lampu stadion dimatikan. Gelap gulita selama beberapa detik. Teriakan-teriakan histeris penonton mulai terdengar. Saya pun langsung berteriak begitu sesaat kemudian, lampu yang berderet diatas panggung, menggantikan backdrop, dinyalakan.
Sebentar lagi mereka keluar! Mereka akan naik panggung! ujar saya dalam hati.
benar saja. beberapa saat kemudian, satu persatu personil The Cure mulai naik ke atas panggung. Dan saat Robert Smith berada tepat di depan wajah saya, histeria itu tak terelakkan lagi. Saya berteriak sekencang dan sepanjang mungkin, yang saya bisa.
Naik haji dimulai!
Tanpa banyak basa basi, mereka langsung membuka set dengan Open. Ribuan penonton yang kebanyakan warga Indonesia (tebakan saya!) langsung bergoyang mengikuti irama lagu yang mengalun. Saya mulai merasakan adrenaline rush. merinding!
Malam itu, Robert Smith masih terlihat sebagai sosok yang menginspirasi, dan penuh karisma dengan rambut acak-acakan dan setelan serba hitamnya. Tidak diragukan lagi, sosok itulah yang sukses meng-influence ribuan pecinta musik di seluruh dunia.
Memang tidak terdengar instrumen keyboard dari atas panggung malam itu. Sedikit banyak itu mengurangi nilai keutuhan dari lagu mereka. Tapi, hal itu tertutupi dengan sound maksimal, dan lighting yang fantastis. Terlebih lagi, hal itu tertutupi dengan perasaan senang luar biasa yang saya alami.
Robert Smith memang kurang komunikatif dengan penonton. Hanya sesekali dia terdengar mengucapkan thank you, di sela-sela pergantian lagu. Itu malah menambah kelengkapan sosok The Cure sebagai band gelap, muram, gloomy, yang pemalu.
Lagu kedua, Fascination Street membuat penonton makin menggila. Koor massal terdengar di seantero stadion. Tapi, penonton benar-benar terbakar di lagu ketujuh, berjudul The End of the World. Saya pun makin bersemangat, dan makin lantang mengucapkan kata demi kata yang ada di lirik-lirik lagu mereka.
Highlight paruh pertama untuk saya, adalah saat mereka menyanyikan hits, Lovesong. Saat intro lagu tersebut dimainkan, badan ini rasanya bergetar hebat! Sial! Ini Lovesong! Tentu saja saya harus bernyanyi dengan sekuat tenaga! Terlihat di kiri kanan saya, anak-anak whisperdesire dan Betmen juga bernyanyi penuh semangat. Saya pun tidak ingin melewatkan sedetik pun lagu tersebut. Tanpa disangka, di tengah lagu, saya menitikkan air mata. Terharu? Teringat kenangan lama akan lagu tersebut? Entah yang mana. Yang pasti, air mata tersebut mengalir dengan jujur, hanya untuk The Cure.
Tanpa henti, mereka menggeber lagu berikutnya, Push.
Setelahnya, kembali momen yang jadi highlight untuk saya. Mereka menyanyikan Pictures of You! Gila! Ini bisa membuat saya kolaps! Tidak, saya harus tetap sadar untuk bisa menyaksikan aksi mereka detik demi detik, sampai akhir konser!
there is nothing in the world, that i ever wanted more...
than to feel you deep in my heart...
there is nothing in the world, that i ever wanted more...
than to never feel the breaking apart...
all my pictures of you...
Sial! bait demi bait lagu tersebut sukses membuat saya kembali menitikkan air mata untuk kedua kalinya! Shite! Saya tetap meloncat-loncat sambil berteriak menyanyikan lagu tersebut dengan syahdu. Namanya juga naik haji, harus sepenuh hati bukan?
Lagu ketujuh belas, menjadi sajian tersendiri. Terdengar intro lagu In Between Days dari atas panggung. Saya langsung berteriak, meloncat, dan menari mengikuti irama lagu yang ceria. Ekspresi kegembiraan ini masih berlanjut kala mereka menyambung lagu tersebut, dengan lagu selanjutnya yang melegenda. Friday I’m In Love!
Hwa! Sial! Saya jadi teringat masa lalu! tidak bisa dipungkiri bahwa lagu ini berperan juga dalam kehidupan saya. dan turut mendukung saya untuk mencintai The Cure.
Koor massal penonton kembali terjadi. Sedangkan Robert Smith tetap terlihat bernyanyi dengan penuh penjiwaan di atas panggung. Momen yang menakjubkan. Tentunya saya tidak melewatkan momen ini untuk bernyanyi sepenuh hati.
The Cure memang gila. Tanpa jeda, mereka kembali menggenjot penonton yang sudah panas, dengan melantunkan hits legendaris mereka lainnya, Just Like Heaven. Shite! This is my favourite song of all! Langsung saya menari dan bernyanyi sepenuh hati. Terlintas kenangan akan lagu ini di benak saya. Dan kembali, air mata menetes dari pelupuk mata ini.
you...soft and only...
you...lost and lonely...
you...strange as angel...dancing in the deepest ocean...
twisting in the water...
you’re just like a dream...
Para personil The Cure sempat berjalan ke belakang panggung, seakan bakal mengakhiri konser, setelah menyanyikan End. Tentu saya tidak terima! Saya langsung berteriak kalimat wajib di setiap konser, we want more. Tentunya ini saya teriakkan bersama ribuan penonton lainnya.
Tanpa basa basi, Robert Smith dan teman-teman kembali naik panggung untuk memberi encore. Tanpa disangka, mereka langsung melantunkan Let’s Go To Bed, Close To Me, dan Why Can’t I Be You. Encore yang sangat berkualitas dan memuaskan!
Selepas Why Can’t I Be You, mereka kembali menghilang dari atas panggung. Selesai? Sial! Saya kurang puas! mereka belum menyanyikan Boy’s Don’t Cry! Ternyata, mereka memberi encore tambahan. Berupa Three Imaginary Boys, Fire In Cairo, Boy’s Don’t Cry, Jumping Someone Else’s Train, Grinding Halt, 10.15 Saturday Night, dan penutup yang sempurna, Killing An Arab. Yes! Saya bisa mendengar mereka menyanyikan hits-hits lawas mereka. Saat mereka menyanyikan Boy’s don’t Cry, saya hampir menitikkan air mata untuk kesekian kalinya. Tapi saya tahan sebisa mungkin. Karena akan bertolak belakang dengan judul lagu tersebut. Total konser selama 3 setengah jam, membuat kaki saya lemas. Saat lampu stadion menyala tanda konser selesai, saya langsung terjatuh. Hampir tidak bisa berdiri. Saya ditolong oleh anak-anak whisperdesire, Marsha Trax FM, dan Betmen. Terima kasih teman! Total puluhan lagu sukses dibawakan dengan sempurna. Sayang, mereka tidak membawakan Trust, dan Doing The Unstuck.
Konser yang hebat! Dan tidak salah lagi, ini adalah salah satu momen terpenting, dan terindah dalam hidup saya.
Set List:
Set utama:
(Intro)
Open
Fascination Street
Strange Day
The Blood
A night like this
The Walk
The End of the World
Lovesong
Push
Pictures of You
Lullaby
Kyoto Song
Hot Hot Hot!
Alt.End
The Drowning Man
From the edge of the deep green sea
In Between Days
Friday I'm in Love
Just like heaven
Primary
If only tonight we could sleep
The Kiss
Shake dog Shake
Never enough
Wrong number
100 years
Shiver and shake
End
Encore pertama:
Let's go to bed
Close to me
Why Can't I be you
Encore kedua:
Three imaginary boys
Fire in Cairo
Boys don't cry
Jumping someone else's train
Grinding Halt
10.15 Saturday night
Killing an arab
Mr. Robert Smith...
I am a boy...and I was crying in front of you...
I am sorry...
thanks for all your words...your music...
thank you The Cure...
lovely...
D-Day part 1
Day 2. It’s the D-Day. This is it. This is the time. This is the moment I’ve been waiting for. Robert Smith and friends are gonna rocking my night, my mind, my heart, my brain, my feeling, all I have in me.
A NIGHT WITH THE CURE
LIVE IN SINGAPORE
TONITE!
Shit! Tiba-tiba jadi bisa bangun pagi gini. Padahal biasanya saya baru beranjak membuka mata paling cepat sekitar pukul 11 siang. Tapi khusus hari ini, rasanya hati kecil saya yang tiba-tiba membuat mata ini terbelalak di pukul 8 pagi. Hebat! Segera saya membangunkan teman saya yang tidur tepat di sebelah. Malahan, kakinya nangkring di sekitar muka saya. Biasa lah, perihal ruangan sempit, ditambah badan besar gejala obesitas.
Saya, saudara saya, dan teman saya segera bergiliran mandi. Seperti biasa. Ritual mandi ini dilakukan cukup sekenanya saja. Asal badan ini sudah terguyur, terusap sedikit sabun, maka tuntas sudah segmen yang diberi titel mandi.
Sekitar pukul 10 pagi, kami sudah melangkahkan kaki keluar dari apartemen. Soalnya, kami berniat untuk sedikit memutari pusat perbelanjaan yang ada di Singapore. Sedikit berbelanja, rasanya cukup melengkapi syarat pergi ke Singapore. Yang menurut kebanyakan orang adalah surganya belanja di Asia Tenggara.
First destination, Far East! Disitu saya ingin kembali melihat beberapa toko sneakers yang kebetulan lagi banyak stock sneakers bagus. paling nggak, itu menurut teman-teman Footurama.
“Mau ngapain dulu nih? Makan dulu? Liat sneakers? Atau mau liat kaos band dulu?”
Saudara saya membuka percakapan. Dengan pertanyaan yang agak sulit.
Hmmm, sedikit bingung sebenarnya. Saya tidak dapat menjawab secepat itu. Untung teman saya sigap dalam menjawab. Dia memutuskan untuk melihat toko sneakers terlebih dahulu. Memang dari masih di Jakarta, dia berniat untuk membeli sepasang sneakers di sini. Maka kami segera melangkahkan kaki ke Leftfoot. Salah satu toko yang cukup punya nama disini.
Oh iya. Cewek yang kemarin menikmati malam Singapore sambil ditemani bir bersama kami juga turut serta dalam perjalanan kali ini. Dia bermaksud membeli vinyl nanti di Queensway.
Great! Itu yang pertama kali muncul di benak saya ketika melihat isi toko Leftfoot dari luar. Betapa gawatnya koleksi yang mereka tawarkan. Baris pertama yang dapat saya lihat dari luar adalah berbagai pilihan untuk merek Nike. Mulai dari dunk, airmax 1, airmax 90, court force, semua mereka punya! Walah! Ini sih bisa bikin bangkrut, pikir saya. Segera saya melangkahkan kaki lebih dalam. Ternyata, di dalamnya lebih gila lagi. They have a large selection of Vans! Half cab, skate hi, old skool, even Vans x Marc Jacobs! Selain itu, mereka juga memajang merek lain seperti Adidas, tapi saya kurang tertarik dengan koleksi Adidas mereka. Semakin saya melangkahkan kaki ke dalam, semakin saya dibuat tertegun. Kali ini mereka mempertontonkan pilihan untuk merek New Balance. Hebat! Ada berbagai macam 576, dan 574. Tentunya pandangan saya juga tidak luput dari seri ST yang katanya baru saja mereka luncurkan. Teman saya bingung dalam memilih ternyata. Maka kami memutuskan untuk berputar-putar dulu, melihat pilihan yang ada di toko lain, baru diputuskan apa yang akan dibeli.
Kami naik satu lantai, tiba-tiba ada satu counter terbuka yang memajang sneakers, dengan tulisan SALE! disampingnya. Wah! Ini diskon besar tampaknya! Segera kami masuk ke dalamnya.
Ternyata memang benar. Ini adalah section diskon dari toko Leftfoot di bawah tadi. Disini, walaupun harganya lebih murah, tapi pilihan sepatunya lebih sedikit. Dan sedikit sekali yang bisa membuat mata ini terbelalak. Eh, tapi kok ada sepatu yang tampaknya akrab bagi saya. Walah! Ini adalah Adidas Adicolor W2 yang saya punya di rumah! Ujar saya dalam hati. Saya pun penasaran dengan harga yang akan mereka pasang untuk sepatu saya itu. Ternyata, harganya memang murah sekali! Sial!
Di tempat itu teman saya tidak dapat menemukan pilihan yang sreg. Kami pun melanjutkan journey hari itu. Eits! Saya baru ingat. Kenapa tidak menuju Warped? Consignment store yang juga terletak di Far East.
Pertama kali masuk, saya tidak begitu tertarik dengan lay out dari toko ini. Terlalu sederhana kayaknya. Tapi, ada pepatah don’t judge the book by It’s cover, right? Maka saya ingin melihat-lihat dulu koleksi mereka. Ternyata, kekecewaan saya berubah menjadi kekaguman tiada tara. Di bagian tengahnya, mereka menyimpan koleksi maut mereka di dalam kotak kaca. Saya menemukan Nike SB Dunk Low Futura, SB Dunk Low Heineken, SB Dunk Low Medicom, SB Dunk High Unkle, SB Dunk Low Tiffany, dan holy grail lainnya. Sial! Ini pasti mahal sekali harganya! Pikir saya dalam hati. Maka saya memutuskan untuk tidak melihat harganya. Lebih baik saya melihat-lihat koleksi mereka yang dipajang di dinding saja.
Ternyata, barang-barang yang mereka pajang di dinding juga tidak kalah hebat. Mata saya langsung tertuju pada Nike Dunk Low Jordan I Inspired. Tentunya dengan warna kebesaran merah dan hitam. Ah, tapi teman saya, Molen, salah seorang penyiar radio kenamaan ibukota, pernah memakainya saat menghadiri konser Tahiti 80 di Jakarta kemarin. Masa nanti samaan sama dia? Saya mulai melangkahkan kaki mengitari toko, melihat-lihat mulai dari Nike, Adidas, New Balance, Vans, Puma, dan lainnya. Semua barang mereka hebat! Tapi, kata teman saya yang kebetulan melihat harganya, ternyata mereka memasang harga yang lumayan tinggi. Maka kami memutuskan untuk segera melangkahkan kaki keluar. Tapi saya berniat, suatu saat saya akan membeli salah satu sneakers yang ada di toko tersebut. Karena, biar bagaimanapun di Jakarta masih sangat susah mencarinya. Paling hanya dari anak-anak Footurama.
Teman saya pun memutuskan untuk membeli Nike Dunk High Glow In The Dark, yang tadi dia lihat di Leftfoot. Maka kami segera menuju Leftfoot, dan dia segera melakukan pembayaran. Sial! Wajahnya tersenyum puas! Sementara saya, hanya bisa melihat isi dompet, dan berpikir,
“Ah! Nggak ada duit lagi! Kalo beli sekarang, nanti nggak bisa pulang ke Jakarta kan gawat!”
Ah sudahlah! Masih ada lain kali. Maka kami segera bergerak menuju toko yang menjual kaos-kaos dan merchandise band. Baru saja kami berjalan keluar dari Leftfoot, tiba-tiba dari bawah ada yang memanggil-manggil nama saya,
“Ting!”
Suara siapa ya? Rasa penasaran menuntun saya untuk melihat ke bawah. Ternyata itu adalah suara Bindra, yang diikuti oleh suara Freddy yang memanggil saya. Mereka ada disini juga ternyata! Selain mereka berdua, ada juga Michael yang punya nama panggilan Ncek. Saya pun sedikit berbasa basi saat mereka berhasil naik keatas.
“Lo pada nonton The Cure juga kan?”
Ya pastilah! Masa mereka udah sampai di sini nggak nonton The Cure? Apalagi mereka adalah beberapa personil dari band Whisper Desire yang mengaku terinspirasi oleh The Cure. Pertanyaan yang sangat bodoh bukan? Bindra pun segera menjawab,
“Iyalah. Kita nonton semua. Lo festival atau tribun?
“Gue festival Bin. Yang tribun si Teguh sama Age. Lo festival juga kan Fred? Ncek?” tanya saya.
“Iyalah!” jawab Freddy dan Ncek, kompak.
“Yuhuu! Ada temen lagi gue akhirnya! Kita ketemu di antrian nanti ya! Hahaha!”
“Pasti!”
Kami berpisah. Dengan senyum mengembang. Membayangkan kloter “naik haji” ini bakalan berkumpul di Singapore Indoor Stadium, sore nanti.
